Jumat , 21 April 2017, 05:55 WIB

Dai Cilik Jadi Imam Gerakan Subuh Berjamaah di Papua Barat

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agus Yulianto
Republika/Rizma Riyandi.
Shalat Subuh berjamaah (Ilustrasi)
Shalat Subuh berjamaah (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, FAKFAK -- Alfatih Kaffah Nusantara (AFKN) menggelar gerakan Subuh berjamaah di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dengan diimami oleh hafiz cilik dari Pondok Pesantren Nuuwar, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/4). Gerakan tersebut berlangsung di lima masjid dari 21-23 April 2017.

Panitia gerakan Subuh berjamaah, Abdul Mufti Rumadhan, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara Isra Mi'raj yang diselenggarakan AFKN. Selain gerakan Subuh berjamah nantinya akan ada berbagai lomba antara lain pidato bahasa arab, kaligrafi, menulis huruf hijaiyah, azan, hafalan Alquran juz ke-29, teladan ayah dan ibu

"Kita diimami santri dari Jawa Barat, anak kita ini, anak kecil nggak apa-apa, beliau hafiz," ujarnya dalam sambutannya, di Masjid Al-Munawarah, Jumat.

Abdul mengharapkan, dengan gerakan tersebut ke depannya semakin banyak warga yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Jamaah yang hadir kali ini juga diharapkan mengajak warga lainnya.

Abdul menilai, shalat Subuh memiliki banyak manfaat bagi umat Islam. Di samping itu, dengan gerakan tersebut juga akan semakin menguatkan Islam itu sendiri. "Orang kafir akan takut jika shalat Subuh berjamaah semakin banyak," kata Abdul.

Imam shalat Subuh berjamaah, Muhammad Sulthan Maghribi Garamatan (16) menilai, gerakan tersebut berdampak baik kepada kemajuan Islam. Menurut dia, dengan gerakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan ibadah umat. "Biar mereka bisa terbiasa," kata Sulthan.

Sulthan mengaku, menjadi imam salat Subuh berjamaah sudah sering dilakukan ketika berada di pondok pesantren. Sebab itu, Sulthan merasa tidak takut untuk mengemban tugas.

Hafalan Alquran yang terus Shulthan pelajari setiap hari merupakan modal menjadi seorang imam. Selain itu, mental juga penting untuk dilatih.

Sulthan merupakan hafiz yang kini sudah mampu menghafal enam juz Alquran. Dia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nuuwar baru sembilan bulan.

Kasim (34), salah seorang jamaah menyambut baik gerakan Subuh berjamaah tersebut. Kasim berharap gerakan seperti ini terus berlanjut.

Kasim pun tak mempersoalkan imam shalat Subuh dipimpin oleh hafiz cilik. Meskipun masih kecil, kata Kasim, dia memiliki kemampuan bacaan Alquran dan suara yang cukup baik.

"Biasa pimpin rata-rata orang tua. Tapi ini, untuk suara dan bacaan bagus, jadi nggak masalah," kata Kasim.

Masyarakat baik anak-anak maupun orang tua cukup antusias mengikuti shalat Subuh berjamaah. Mereka mulai berdatangan ke masjid sejak pukul 04.00 WIT atau 30 menit sebelum masuk waktu Subuh.