Kamis , 14 September 2017, 18:45 WIB

Pemuda adalah Pewaris Peradaban

Rep: c32/ Red: Agung Sasongko
Pemuda muslim (ilustrasi)
Pemuda muslim (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tangan pemuda, masa depan suatu peradaban diletakkan. Kelompok usia yang memiliki berbagai kelebihan: semangat, energi, waktu, kemampuan mobilitas, dan gagasan-gagasan kreatif. Dari segi usia, WHO menggolongkan orang berusia 10-24 tahun sebagai young people sedangkan usia 10-19 tahun sebagai remaja (adolescence).

Webster's Dictionary mendefinisikan pemuda sebagai "the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person."

Alquran sudah mencatat beberapa kisah tentang pemuda. Surah al-Kahfi ayat ke-18 menceritakan tentang Ashabul Kahfi. Sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT menyelamatkan diri dari kaumnya yang menyimpang. Allah menidurkan mereka di dalam gua selama 309 tahun hingga sampai tiba masa penguasa yang beriman.

Kemudian, surah al-Buruj membahas pemuda Ashabul Ukhdud. Surah ini menceritakan pemuda yang tegar dalam keimanannya pada Allah. Penguasa yang murka membinasakan kaum beriman dengan menceburkan mereka ke dalam parit berisi api yang bergejolak.

Pada masa Rasulullah SAW, mayoritas orang yang pertama-tama masuk Islam adalah pemuda. Secara sosio-kultural, fenomena ini berkaitan dengan karakter agama Islam yang revolusioner. Laiknya setiap gagasan besar, ia selalu disambut oleh kaum muda, bukan kaum muda tua yang sudah mapan dengan tradisi.

Pemudalah yang memiliki energi dan semangat untuk menyambut gagasan-gagasan baru. Lantaran itu, tidak aneh apabila kaum muda yang pertama-tama meyakini Islam dan menjadi ujung tombak gerakan dakwah di Makkah. Islam memandang pemuda bukan sebagai makhluk setengah dewasa yang labil atau gemar membuang waktu, sebaliknya Islam menaruh harapan besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor.

Para pemuda Muslim generasi awal berkiprah dalam spektrum luas. Rasulullah memetakan potensi tiap-tiap sahabat dengan cermat. Alquran surah at-Taubah ayat 122 menyebutkan, tidak sepatutnya mukminin terjun semua ke medan perang. Harus ada sebagian dari mereka yang tinggal untuk memperdalam ilmu pengetahuan keagamaan dan memberi peringatan pada kaumnya. Itulah yang dilakukan Rasulullah. Sahabat yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang sedangkan sahabat yang memiliki minat mendalami ilmu diberi tempat di masjid.

Dalam bidang kemiliteran, tercatat nama Sa'ad bin Abi Waqqash yang masuk Islam ketika berumur 17 tahun. Khalid Muhammad Khalid dalam Biografi 60 Sahabat Rasulullah menulis, Sa'ad adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ia ditunjuk menjadi panglima kaum Muslim di Irak dalam perang melawan Persia pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Pemuda lainnya, Usamah bin Zaid, pada usia 18 tahun dipercaya Rasulullah untuk memimpin pasukan yang di dalamnya ada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Pasukannya berhasil dengan gemilang mengalahkan tentara Romawi.

Atab bin Usaid diangkat menjadi gubernur Makkah pada usia 18 tahun. Dua ksatria yang membunuh Abu Jahal dalam perang Badar, Mu'adz bin Amr bin Jamuh dan Mu'awwidz bin 'Afra, juga masih berusia belasan tahun.