Jumat , 21 April 2017, 17:00 WIB

Georgia, Salah Satu Emirat Islam di Kaukasus

Red: Agung Sasongko
onislam
Muslim Georgia
Muslim Georgia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Republik Georgia adalah sebuah negara transbenua, terletak di antara benua Eropa dan benua Asia. Bekas republik di Uni Soviet ini berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Turki di sebelah barat daya, Armenia di sebelah selatan, serta Azerbaijan di sebelah timur.

Georgia dikenal sebagai negara pegunungan karena dikelilingi oleh Pegunungan Kaukasus sehingga menumbuhkan banyak sungai yang bermuara di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Nama Georgia diberikan oleh para penduduk Eropa Barat karena Santo (orang suci Katholik) Saint George berasal dari daerah itu. Orang-orang Georgia menyebut dirinya sebagai Kartvelebi.

Kerajaan kuno di Georgia telah dikenal pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), yaitu Kerajaan Colchis, pada abad ke-3 SM Kerajaan Kartli-Iberia, dan secara berurutan Georgia pernah dikuasai oleh Arab, Persia, Turki, dan Uni Soviet. Dengan luas wilayah 70.000 km persegi, dua kali luas wilayah Belgia atau Swiss, Republik Georgia mempunyai iklim yang moderat dan hangat. Berpenduduk sekitar 4.677.401 orang yang terdiri atas berbagai suku, antara lain Georgia, Azeri, Armenia, dan Rusia. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Ortodox (83,9 persen), Islam (10 persen), dan lainnya tujuh persen.

Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade. Namun, jauh sebelum ajaran Kristen merambah kawasan Georgia, kerajaan-kerajaan Muslim tercatat telah beberapa kali menaklukkan wilayah ini.

George Sanikidze dan Edward W Walker dari University of California, Berkeley, dalam artikel mereka yang bertajuk “Islam and Islamic Practices in Georgia” memaparkan bahwa ajaran Islam masuk ke Georgia pada abad ke-8 Masehi ketika orang-orang Arab menduduki Tbilisi selama empat dekade dan menjadikannya sebagai ibu kota emirat Islam (Nisba' at-Tiflisi). Namun, kota ini direbut kembali oleh King David IV pada tahun 1122 dan dijadikan ibu kota Kerajaan Kristen Georgia.

Data ini menunjukkan bahwa agama Islam sudah sangat lama berada di wilayah ini. Sayangnya, karena minim pembinaan dan kuatnya hegemoni Kristen dan komunis, secara perlahan umat Islam di Georgia mengalami penyusutan kuantitas (jumlah). Bahkan, selama lebih dari delapan abad, agama Islam di Georgia tak menunjukkan aktivitas yang berarti.

Berita Terkait