Rabu , 29 March 2017, 16:00 WIB

Awal Masuknya Islam ke Yaman

Red: Agung Sasongko
ceegaag.net
Yaman
Yaman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Awal masuknya Islam ke Yaman bermula pada 630 M. Kala itu, Nabi Muhammad SAW mengutus saudara sepupu yang juga menantunya, Ali bin Abi Thalib RA, ke Sana'a dan sekitarnya untuk menyampaikan syiar Islam. Pada waktu itu, Yaman merupakan wilayah yang paling maju di Semenanjung Arabia. Bani Hamdan tercatat sebagai kabilah yang pertama menerima Islam.

Di samping itu, Rasulullah SAW juga pernah mengutus Mu'adz bin Jabal RA ke al-Janad—yang hari ini dikenal sebagai daerah Taiz—untuk menyampaikan surat dakwah kepada para pemimpin suku di sana. Selama periode risalah Nabi SAW, negeri Yaman tidak mempunyai kekuasaan yang terpusat, tetapi diperintah oleh sejumlah suku yang memegang kendali otonomi di daerah mereka masing-masing.

Beberapa suku terkemuka di Yaman, termasuk Bani Himyar, mengirim delegasi ke Madinah antara 630-631 M untuk menyatakan kesediaan mereka menerima Islam. Kendati demikian, sejumlah orang Yaman sudah ada yang lebih dulu menjadi Muslim sebelum kedatangan delegasi tersebut. Beberapa di antaranya Ammar bin Yasir RA, al-Ala'a al-Hadrami RA, Miqdad bin Aswad RA, Abu Musa al-Asy'ari RA, dan Syurahbil bin Hasanah RA.

Para delegasi Yaman itu lantas meminta Rasulullah SAW supaya mengirimkan sejumlah guru untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat Arabia Selatan. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Nabi menugaskan sekelompok sahabat yang berkompeten dan menunjuk Mu'adz bin Jabal sebagai amir (pemimpin) mereka.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, sebelum Mu'adz berangkat ke Yaman, Rasulullah bersabda “Wahai Mu'adz, mungkin engkau tidak akan menjumpaiku lagi setelah ini. Mungkin ketika engkau kembali (ke Madinah), engkau hanya akan mendapati masjid dan makamku.”

Mendengar penuturan Nabi tersebut, Muadz pun menangis. Para sahabat yang ikut diutus ke Yaman bersamanya juga menangis. “Perasaan sedih mengharu biru di hati Mu'adz saat harus berpisah dari kekasihnya, Nabi Muhammad SAW,” tulis Abdul Wahid Hamid dalam bukunya, Companions of The Prophet, Volume 1.

Firasat Nabi ternyata benar. Rasulullah SAW wafat sebelum Mu'adz kembali dari Yaman. Untuk kesekian kalinya, Mu'adz kembali menangis ketika sampai di Madinah dan mendapati bahwa Nabi sudah meninggalkan dunia yang fana ini.