Sabtu , 30 September 2017, 17:26 WIB

Anak yang Beruntung

Red: Irwan Kelana
Ibraheem Abu Mustafa/Reuters
Louy Al-Najar bersama anaknya merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini (foto ilustrasi).
Louy Al-Najar bersama anaknya merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini (foto ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh  Dr  Hasan Basri Tanjung MA

Keberadaan anak dalam keluarga ada empat macam,  yakni anak tak beruntung, anak kurang beruntung, anak tak tahu diuntung dan anak yang beruntung. Anak tak beruntung punya orang tua namun menjadi sumber petaka. Anak kurang beruntung karena keadaan atau pengabaian orangtua. Sementara, anak yang tak tahu diuntung karena pendidikan atau lingkungan yang salah, sehingga menyengsarakan orang tua.
   
Dr  Bunyanul Arifin, dalam buku Menjadi Muslim Super Dad, menyebut enam peranorang tua (ayah) agar anak beruntung; pemimpin, tulang punggung, pelindung, pendidik, teman bermain dan sahabat. Ada empat kriteria anak yang beruntung. Pertama, kehadirannya dinantikan. Anak yang lahir dari pasangan suami istri yang saling menicintai, beriman, berilmu, beramal dan beradab (QS.98:7-8).

Ketika lahir, ia disambut dengan adzan dan iqamah, lalu diberi nama yang baik. Dengan tulus ibu menyusui sampai dua tahun (QS.2:233). Ia bak perhiasan dan penyejuk mata (QS.18.46,25:74). Jika tak ada, ia dicari. Jika pergi ia dinanti. Jika kembali disambut sepenuh hati dan diberi rezeki yang halal bergizi (QS.16:114).

Kedua, pencapaiannya dibanggakan. Anak yang beruntung dihargai dan dibanggakan orang tuanya (QS.37:102). Walau usia belia, ia tetap ingin diakui di hadapan orang lain. Usahanya belajar mestilah diapresiasi dengan ucapan, sikap dan tindakan. Jika dibanggakan, ia akan percayadiri. Orang tuanya berikhitiar sekuat tenaga dan berdoa untuk kejayaannya (QS.3:38,14:40). Guru saya, KH Didin Hafidhuddin selalu mengambil rapor anaknya walau sibuk setiap hari.

Ketiga, pengabdiannya mengagumkan. Bagi orang tua, tiada yang paling diharapkan dari anak selain bakti,terutama di hari tua(QS.17:23-24). Usia 40 tahun merupakan momentum kesadaran seorang anak untuk berbakti, karena ia telah merasakan mengasuh anak (QS.46:15). Berbakti setulus hati (birrul walidain) dan orang tua sempat menikmati hasil jerih payahnya. Merugilah seorang jikabersama orang tua di usia senja, namun tidak mengantarnya ke surga (HR.Muslim).

Keempat, kesalehannya membahagiakan.Anak yang berbakti akan dirasakan orang tua semasa hidup. Namun, ketaatannya beribadah kepada Allah SWT, akan membahagiakan orang tua setelah kematiannya. Anak yang rajin membaca dan menghafal al-Quran menjadi wasilah mahkota kemuliaan (HR. Abu Daud). Selalu berdoa agar diampuni dan terhindar dari siksaan (QS.17:24,71:28). Amal kebajikan dan ilmu yang diajarkan tetap dijaga agar pahala terus dialirkan (HR. Bukhari).

Menjadi anak yang beruntung adalah anugerah Ilahi. Ia dididik dengan sedikit pengajaran, banyak keteladanan dan pembiasaan, lalu ditegakkan aturan dengan kasih sayang. Anak yang beruntung, karena orang tuanya pun beruntung. Benarlah pesan Nabi SAW untuk berbakti kepada orang tua, agar kelak dianugerahi anak yang berbakti pula (HR.At-Tabrani). Allahu a’lam bishawab.