Kamis , 21 July 2016, 21:11 WIB

Taufik Ismail Terharu Saat Hadiri Kongres Gerakan Indonesia Beradab

Rep: Adysha CR/ Red: Dwi Murdaningsih
ROL/Sadly Rachman
Taufik Ismail
Taufik Ismail

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Berangkat dari kekhawatiran atas terkikisnya adab masyarakat, Gerakan Indonesia Beradab (GIB) menyelenggarakan kongres pertama untuk mencari jalan keluar bersama. Sastrawan senior Taufik Ismail yang turut menghadiri kongres pertama GIB merasa terharu atas komitmen yang diberikan lebih dari 200 organisasi masyarakat dalam GIB terhadap perbaikan adab masyarakat.

"Saya merasa terharu karena sesuai dengan judulnya, sesuai dengan sub judulnya. Keadaan kita di Indonesia pada saat ini, terutama 10 tahun terakhir ini, betul-betul sangat menyedihkan," ungkap Taufik kepada Republika.co.id, saat ditemui di Siti Hotel by Horison, Kamis (21/6).

Menurut Taufik, generasi muda saat ini mendapatkan banyak sekali gangguan dari konten negatif yang dapat dengan mudah diakses melalui berbagai platform. Jika dibiarkan, paparan konten negatif ini dapat dengan mudah membuat generasi muda semakin jauh dari adab dan nilai-nilai terpuji. Oleh karena itu, Taufik berharap GIB dapat mengimplementasikan hasil kongres pertama mereka dengan lancar ke depannya.

Kurikulum Akil Baligh Diharapkan Bisa Perbaiki Akhlak Generasi Muda

"Saya berharap mudah-mudahan hal ini dapat mereka lakukan," harap Taufik.

Kongres pertama GIB bertujuan untuk melakukan konsolidasi dengan lebih dari 200 organisasi masyarakat pendukung GIB dalam menyusun langkah konkrit untuk mengembalikan kembali adab yang mulai terkikis di tengah masyarakat. Di samping itu, langkah konkrit yang dirumuskan juga bertujuan untuk menghalau ancaman pornografi yang memegang andil besar dalam mengikis adab pada generasi muda.

Strategi langkah-langkah konkret ini berfokus setidaknya dalam sembilan bidang yaitu orang tua, pemberdayaan keluarga, pendidikan serta pemberdayaan pemuda. Selain itu, strategi yang disusun oleh GIB juga meliputi lingkup hukum, politik, terapi dan rehabilitas, komunikasi massa dan pemberdayaan ekonomi.