REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Santri masa kini dituntut tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama dan kematangan spiritual, tetapi juga menguasai sains, teknologi, bahasa asing, serta keterampilan profesional agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Meski dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman, santri harus tetap menjaga tradisi pesantren, ketawadhuan, dan akhlak sebagai fondasi jati diri.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pesantren, KH Ahmad Fahrur Rozi mengatakan, santri masa kini harus memiliki kedalaman ilmu agama, keluasan wawasan, dan kemampuan menjawab tantangan zaman. Santri harus mampu berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, hingga kepemimpinan.
"Penguasaan bahasa Arab dan Inggris sangat penting agar santri mampu mendalami khazanah keilmuan Islam sekaligus terhubung dengan dunia internasional. Namun, santri bukan sekadar orang yang pernah belajar di pesantren. Jati diri santri harus tercermin dalam wirid, tirakat, tawadhu, dan akhlaknya," kata Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang yang akrab disapa Gus Fahrur kepada Republika, Rabu (21/10/2026)
Ia menegaskan, santri harus cerdas pikirannya, kuat spiritualitasnya, dan nyata pengabdiannya kepada umat dan bangsa.
Menurutnya, pesantren terus berkembang dengan mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan formal, sains, teknologi, bahasa asing, dan keterampilan hidup. Perkembangan ini penting untuk mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.
Namun, Gus Fahrur mengingatkan, modernisasi tidak boleh menghilangkan ruh pesantren. Penguasaan kitab kuning, tradisi keilmuan, wirid, tirakat, ketawadhuan, dan keteladanan kiai harus tetap menjadi fondasi.
"Pesantren bukan sekadar tempat mencetak orang pintar, melainkan tempat membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual," ujarnya.