REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wajah santri hari ini tidak lagi terbatas pada tradisi pesantren dan dakwah keagamaan, tetapi juga bersentuhan dengan perkembangan teknologi dan dunia profesional. Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk melihat bagaimana santri beradaptasi dengan perubahan zaman, tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam, sekaligus mempersiapkan diri menjadi akademisi, profesional, entrepreneur, teknolog, dan beragam profesi lainnya.
Santri Pondok Pesantren Cintawana Singaparna, Tasikmalaya, yang kini menjadi Tenaga Ahli DPRD Kota Bogor, Ifan Jafar Sidik mengatakan, santri generasi sekarang memiliki peluang lebih besar untuk berkiprah di berbagai bidang. Akses informasi yang semakin luas memungkinkan santri mempelajari teknologi, bahasa asing, dan perkembangan dunia, bahkan membangun usaha sejak masih berada di pesantren.
Menurut Ifan, santri masa kini tidak bisa lagi dipandang hanya dari penampilan, seperti sarung dan peci, atau aktivitasnya di lingkungan pesantren. Santri memiliki latar belakang dan potensi yang beragam, mulai dari pendalaman kitab kuning hingga penguasaan teknologi digital, kewirausahaan, akademik, dan pemerintahan.
"Saya melihat santri generasi sekarang mempunyai peluang besar untuk menjadi jembatan antara nilai-nilai keislaman dan kebutuhan masyarakat modern. Mereka bisa hadir di berbagai bidang tanpa harus melepaskan identitas dan nilai yang membentuk dirinya," kata Ifan kepada Republika, Rabu (21/10/2026)
Ifan tumbuh di lingkungan pesantren dan berasal dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam. Ia menjalani pendidikan formal sekaligus belajar di pesantren hingga jenjang sekolah menengah. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pendidikan pesantren tidak semata-mata mengajarkan agama, tetapi juga membentuk kedisiplinan, kebiasaan menghormati orang lain, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.
Menurut dia, tantangan santri saat ini adalah menghadapi lingkungan yang serba cepat, ketika informasi datang tanpa henti dan media sosial turut memengaruhi cara berpikir. Ukuran keberhasilan pun kerap dikaitkan dengan popularitas, penampilan, dan materi.
"Dalam situasi tersebut, santri membutuhkan pegangan nilai yang kuat agar tidak mudah terbawa arus perubahan," kata Ifan yang juga alumni Podok Pesantren Darussalam Ciamis, Tasikmalaya.
Santri modern, kata Ifan, harus terbuka terhadap kemajuan, tetapi tetap menjaga adab dan jati dirinya. Mereka boleh bercita-cita menjadi pengusaha, pejabat, ilmuwan, atau profesional, tetapi ilmu yang dimiliki harus membawa manfaat bagi orang lain.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya perlu berjalan beriringan agar santri memiliki kemampuan intelektual sekaligus landasan moral dan spiritual dalam menjalani kehidupan.