Senin 19 Oct 2026 05:31 WIB

Al Azhar Serukan Komite Mediasi Negara Arab dan Islam

Seruan Al Azhar muncul di tengah konflik Saudi dan Yaman.

Syeikh Al-Azhar Mesir Prof Dr Ahmed Al Tayeb
Foto: al-monitor
Syeikh Al-Azhar Mesir Prof Dr Ahmed Al Tayeb

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Al Azhar Mesir menyerukan pembentukan segera sebuah komite mediasi yang melibatkan perwakilan negara-negara Arab dan Islam. Hal ini guna membantu mengakhiri konflik yang melanda kawasan tersebut.

Seruan dari Al Azhar, lembaga Islam Sunni terkemuka di dunia, muncul ketika permusuhan antara Arab Saudi dan milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran semakin meningkat dalam babak baru konflik di Timur Tengah. Dalam pernyataan pada Ahad (18/10/2026), Imam Besar Al-Azhar, Syekh Ahmed Al-Tayeb, mendesak para pemimpin Arab dan Muslim untuk menjunjung tinggi semangat persaudaraan serta ikatan agama, darah, dan bahasa. Selain itu, mengutamakan kebijaksanaan, serta mengedepankan akal sehat dan dialog.

Baca Juga

Al-Tayeb memperingatkan bahwa perpecahan dan konflik internal telah melemahkan dunia Arab dan Islam, mengancam keamanan serta kedaulatannya. Sekaligus, menguras sumber daya dan kekayaan di saat persatuan sangat dibutuhkan.

Sebagai lembaga yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun, Al-Azhar memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam Sunni di seluruh dunia. Pemimpinnya saat ini, Imam Ahmed Al-Tayeb, juga menikmati popularitas luas di dunia Arab dan Islam.

Meski seruan pembentukan komite mediasi untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut merupakan langkah yang relatif jarang dilakukan lembaga berpengaruh itu dalam ranah politik dan diplomasi, inisiatif tersebut kemungkinan besar akan dipandang sebagai langkah yang lebih bersifat simbolis.

Al-Azhar menyatakan bahwa komite yang diusulkan harus menghimpun tokoh-tokoh bijaksana dan tulus dari berbagai negara Arab dan Islam untuk meredakan krisis yang semakin memanas, menjembatani perbedaan, serta menyelesaikan perselisihan.

Lembaga itu juga menyatakan kesiapannya untuk memberikan segala bentuk dukungan yang memungkinkan bagi komite tersebut. Al-Azhar menyampaikan keyakinannya bahwa pihak-pihak yang terlibat dapat mengatasi perbedaan dan membuka lembaran baru demi kepentingan perdamaian dan stabilitas.

Sumber:

The National News

 

Berita Lainnya

Rekomendasi