Selasa 06 Oct 2026 20:57 WIB

Setelah Bomber Ditarik dari Inggris, Apakah Perang Iran Memasuki Babak Baru?

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Jet pengebom B-1 Lancer milik Amerika Serikat terparkir di Pangkalan RAF Fairford, Inggris, Senin (28/9/2026).
Foto: EPA/Neil Hall
Jet pengebom B-1 Lancer milik Amerika Serikat terparkir di Pangkalan RAF Fairford, Inggris, Senin (28/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Meski perkembangan militer terkait Iran di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung, Amerika Serikat menarik seluruh 12 pesawat pengebom B-1 yang sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Udara Fairford, Inggris, kembali ke wilayah Amerika Serikat.

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan terkait pangkalan yang memainkan peran penting dalam operasi udara terhadap Iran.

Baca Juga

Aljazeera melansir pada Selasa (6/9/2026), laporan media Amerika dan Inggris menyebutkan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan peringatan mengenai potensi ancaman terhadap pangkalan tersebut.

Pada saat yang sama, otoritas Inggris masih menyelidiki sebuah insiden misterius yang terjadi di dekat pangkalan, di tengah dugaan adanya keterkaitan dengan Iran yang telah dibantah oleh Teheran.

Selain faktor keamanan, sejumlah analisis melihat adanya dimensi lain di balik langkah tersebut.

Penarikan pesawat pengebom terjadi ketika pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah membahas berbagai opsi berikutnya terhadap Iran.

Hal ini memunculkan spekulasi apakah kembalinya pesawat-pesawat tersebut ke Amerika Serikat justru membuatnya tetap siap digunakan untuk melancarkan serangan jarak jauh apabila Washington kembali memutuskan melakukan eskalasi.

Lalu, apa yang mendorong Washington menarik pesawat pengebomnya dari Fairford? Sejauh mana ancaman di sekitar pangkalan tersebut menunjukkan meluasnya dampak perang hingga ke Eropa?

Dan apakah kembalinya pesawat-pesawat pengebom ke Amerika Serikat semata-mata merupakan langkah keamanan atau justru bentuk penempatan kembali untuk mempersiapkan fase baru perang?

 

Berita Lainnya

Rekomendasi