Kamis 17 Sep 2026 16:28 WIB

Islam Mengangkat Budak Menjadi Kesatria yang Berani Menegur Pemimpin dan Bangsawan

Islam tidak memandang kemuliaan seseorang berdasarkan status sosial.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Sahabat Nabi (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Sahabat Nabi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Islam tidak memandang kemuliaan seseorang berdasarkan status sosial dan latar belakangnya. Kisah Salim Maula Abu Hudzaifah, mantan budak yang menjadi salah satu rujukan Rasulullah SAW dalam mengajarkan Alquran, menunjukkan bagaimana Islam mengangkat derajat seseorang melalui keimanan, ketakwaan, dan keberanian menyampaikan kebenaran, termasuk menegur pemimpin dan bangsawan ketika melakukan kesalahan.

Dalam buku Rijalun Haular Rasul yang ditulis Khalid Muhammad Khalid, dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat, "Ambillah olehmu Alquran dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'ab, dan Mu'adz bin Jabal."

Baca Juga

Kita telah mengenal Ibnu Mas'ud, Ubai, dan Mu'adz. Nah, sekarang siapakah sejatinya sahabat keempat yang dijadikan Rasul sebagai andalan dan tempat bertanya dalam mengajarkan Alquran?

Ia adalah Salim, mantan budak Abu Hudzaifah. Pada mulanya ia hanyalah seorang budak, kemudian Islam memperbaiki kedudukannya. Ia diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka, yang masuk Islam lebih dahulu dan merupakan seorang bangsawan dan pemimpin Quraisy.

Ketika Islam menghapus tradisi memungut anak angkat, Salim pun menjadi saudara, sahabat karib, serta budak yang telah dimerdekakan bagi orang yang memungutnya sebagai anak, yaitu sahabat yang mulia bernama Abu Hudzaifah bin Utbah. Berkat karunia dan nikmat dari Allah, Salim mencapai kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan kaum muslimin, yang dipersiapkan baginya oleh keutamaan jiwa, tingkah laku, dan ketakwaannya.

Riwayat hidup Salim tidak berbeda dengan riwayat hidup Bilal, riwayat hidup sepuluh sahabat Nabi ahli ibadah, dan riwayat hidup para sahabat lainnya yang sebelum memasuk Islam hidup sebagai budak yang hina dan miskin. Ia diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun umat ke jalan yang benar. Ia juga menjadi tokoh penentang kezaliman sebagai kesatria di medan laga.

Pada diri Salim terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada dirinya dan bersinar di lingkungan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang sangat indah.

Berani Berkata Benar

Kelebihannya yang paling menonjol pada dirinya ialah mengemukakan apa yang benar secara terus terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya, dan ia tidak mungkin mengkhianati hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan yang menekan jiwanya.

Setelah Makkah dibebaskan oleh kaum muslimin, Rasulullah SAW mengirimkan beberapa rombongan ke kampung-kampung dan suku-suku Arab sekeliling Makkah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah sengaja mengirim mereka itu untuk berdakwah, bukan untuk berperang. Seorang pemimpin dari salah satu pasukan yang dikirim Rasulullah SAW adalah Khalid bin Al-Walid.

Ketika Khalid sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW, beliau memohon ampun kepada Rabbnya sangat lama sekali sambil berkata, "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid."

photo
Grafis sahabat Nabi dari kalangan non Arab - (Republika.co.id)

 

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi