REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dikenal sebagai sosok yang gemar membebaskan budak-budak Muslim yang lemah dan tertindas. Ketika ayahnya mempertanyakan pilihannya membebaskan mereka, bukan orang-orang kuat yang bisa dijadikan pengawal atau pekerja, Abu Bakar menegaskan bahwa semua itu dilakukannya semata-mata untuk mengharap keridhaan Allah SWT.
Dikisahkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang sering membebaskan budak-budak muslimin yang lemah dan tertindas. Abu Bakar bahkan mengerahkan bantuannya dengan segenap harta dan tenaganya.
Suatu ketika Abu Bakar melihat Nahdiyah, seorang budak perempuan, bersama putrinya. Mereka termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Mereka bertugas membuat roti untuk majikan mereka. Seorang majikan perempuannya dari Bani Abd Al-Dar itu bersumpah, “Demi Allah, aku tidak akan membebaskan kalian selamanya.”
Kemudian Abu Bakar berkata, “Tebuslah sumpahmu itu, wahai Ummu Fulan.”
Kepada Abu Bakar, dia berkata, “Tebus sendiri olehmu. Engkau yang telah merusak keduanya, maka engkau bebaskan mereka.”
Abu Bakar bertanya, “Berapa?”
Dia menjawab, “Sekian dan sekian.”
Abu Bakar berkata lagi, “Baiklah aku ambil mereka berdua. Dengan begitu mereka bebas. Berikanlah alat penumbuk tepung itu.”
Nahdiyah berkata, “Atau kami manfaatkan dahulu alat itu, baru setelah itu kami akan mengembalikannya.”
Abu Bakar berkata, “Itu terserah kalian.”
Dikisahkan Ahmad Abdul Al Al-Thahthawi dalam 150 Qshah min Hayati Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Bakar membebaskan budak-budak bukan karena ingin dipuji atau mendapat kehormatan, melainkan menginginkan ridha Allah SWT.