REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS— Pada 19 Agustus lalu, serangan udara Israel mengubah landasan pacu Bandara Militer Abu al-Duhur di Idlib, Suriah, menjadi puing-puing. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Israel menyerang jauh ke dalam wilayah Suriah untuk mencegah upaya membangun militer modern di perbatasan utaranya, sekaligus menghalangi negara Suriah yang baru untuk mengembangkan kemampuan militernya dan membangun aliansi keamanan yang solid.
Hal ini mengundang pertanyaan: seperti apa sebenarnya karakter perang “preventif” Israel tersebut? Apakah pola ini baru dimulai di Suriah, atau memiliki sejarah yang jauh lebih panjang?
Mengutip laporan Aljazeera, Kamis (3/9/2026), pada Juni 1967, sebanyak 15 kapal kargo tiba-tiba mendapati bahwa perang telah menutup Terusan Suez di depan dan belakang mereka sekaligus.
Para nakhoda kapal tidak memiliki pilihan selain menunggu di jalur terusan. Mereka menunggu selama delapan tahun.
Selama masa itu, mereka bahkan menyelenggarakan berbagai pertandingan olahraga dan mencetak perangko khusus.
Pasir terus menumpuk di badan kapal hingga lambung baja mereka menguning dan kapal-kapal itu tampak seolah-olah sudah tidak pernah dirancang untuk bergerak.
Ketika Terusan Suez kembali dibuka pada 1975, hanya dua kapal Jerman yang mampu meninggalkan tempatnya dengan mesin sendiri. Kapal-kapal lainnya seolah-olah telah lupa bagaimana caranya berlayar.
Mesir kehilangan pendapatan dari lalu lintas kapal selama delapan tahun. Namun, yang lebih penting, perang tersebut menghancurkan proyek modernisasi yang selama bertahun-tahun mulai membangun fondasinya.