Rabu 12 Aug 2026 06:28 WIB

Bersatunya Raja Pagaruyung, Kaum Paderi, dan Sentot Ali Basya Melawan Belanda

Belanda mengadu domba kaum adat, kaum Paderi, dan pasukan Sentot.

Istana Pagaruyung di Batusangkar, Sumbar.
Foto: dok. Humas Pemkab Tanah Datar
Istana Pagaruyung di Batusangkar, Sumbar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di seluruh alam Minangkabau, perasaan bosan dan benci kepada Belanda pada masa Perang Paderi (1800-an masehi) tambah menjalar. Sejak dari dalam istana Pagaruyung hingga ke dusun pedalaman semua orang membenci Belanda.

Prof Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Dari Perbendaharaan Lama  menuliskan, dalam suasana seperti itu, Belanda malah mendatangkan Sentot Ali Basya atau Sentot Prawirodirjo dari Tanah Jawa. Dia adalah salah satu panglima dalam perang Diponegoro yang telah menyerahkan diri kepada Belanda bersama para prajuritnya. Namun, ketika Sentot menyerah, beliau membuat syarat yang salah satunya adalah tetap menggunakan 'pakaian Islam'nya. Penyerahan diri Sentot dilakukan di Yogyakarta dengan sambutan upacara militer oleh Belanda.

Baca Juga

Sentot kemudian dikirim Belanda ke Tanah Minangkabau untuk membantu Belanda mengalahkan Pasukan Paderi. Dengan taktik adu dombanya, Belanda memfitnah pasukan Paderi adalah orang-orang yang beraliran sesat. Sentot awalnya mempercayai itu dan dia dijanjikan oleh Belanda untuk menjadi raja dalam salah satu wilayah di Minangkabau yaitu di Solok jika berhasil menumpas pasukan Paderi.

Namun, ternyata Belanda tidak memperhitungkan bahwa ada faktor yang mempertemukan Raja Pagaruyung atau Raja Minangkabau terakhir yaitu Sultan Alam Bagagar Syah dan juga kaum Paderi. 

Buya Hamka menuliskan, saat di Tanah Minangkabau, Sentot melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kaum Paderi yang memberontak pada Belanda itu, sama hakikatnya dengan dia. Sama pakaiannya berjubah dan bersorban. Dan sama pula ibadahnya yaitu sholat ketika azan dikumandangkan. 

photo
Makam Sentot Alibasya di Bengkulu - (Hafil / Republika)

Berita Lainnya

Rekomendasi