
Oleh: Fernan Rahadi, wartawan Republika, dari Makkah, Arab Saudi
Realiasi Kampung Haji di Kota Makkah, Arab Saudi, ditunggu-tunggu oleh jamaah RI. Area tersebut direncanakan menjadi kawasan terpadu bagi para tamu Allah, baik yang melaksanakan haji maupun umrah, dari Tanah Air.
Inisiatif Kampung Haji terinspirasi dari wakaf yang dilakukan saudagar Aceh bernama Habib Bugak al-Asyi. Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak.
Menurut dia, pemerintah ingin menghidupkan semangat wakaf, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Aceh pada abad ke-13 Hijriah dan dikoordinasi oleh Habib Bugak al-Asyi.
“Habib Bugak telah lebih dari 200 tahun memberikan teladan bantuan yang terus memberi manfaat bagi warga Aceh,” kata Wamenhaj Dahnil kepada wartawan Media Center Haji (MCH) saat berkunjung ke Sektor 6 Makkah dan menemui jamaah asal Aceh di Hotel Burj Al Wahda pada Kamis (21/5/2026) malam waktu setempat.
Wamenhaj disambut jamaah haji asal Aceh yang menempati hotel tersebut. Hotel ditempati oleh 53 kelompok terbang (kloter) atau lebih dari 11 ribu orang anggota jamaah. Mereka berasal dari Embarkasi Aceh (BJT) sebanyak 5.482 orang dan Medan (KNO) sebanyak 5.760 orang.
Kedatangan Dahnil juga disambut oleh Imam Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Banda Aceh, Abu Paya Pasi.
Menurut Wamenhaj, model wakaf yang diinisiasi Habib Bugak menjadi teladan bagi program Kampung Haji yang hendak diwujudkan pemerintah RI.
"Apa yang dilakukan Habib Bugak sudah dilakukan 200 tahun lalu tapi kebermanfaatannya masih sampai dengan hari ini untuk warga Aceh," ungkapnya.
Ia menyebutkan pembagian dana wakaf yang bernilai puluhan juta rupiah per jemaah, yang awalnya berasal dari wakaf Habib Bugak.
Sebagian jamaah Aceh menerima manfaat finansial dari wakaf bersejarah itu.Kaitan sejarah Aceh dengan perhajian, menurut dia, menjadi alasan pentingnya pengakuan dan peran Aceh dalam ekosistem haji nasional.
Ia menyampaikan inisiatif lain, termasuk keberadaan pesawat di Asrama Haji Aceh, yang menurutnya menjadi cikal bakal maskapai nasional Garuda. Penempatan "saksi bisu" itu di Asrama Haji Aceh adalah bagian dari pengingat akan besarnya kontribusi Aceh bagi sejarah Republik Indonesia.
"Jadi, Aceh punya sejarah panjang buat Republik. Aceh juga punya sejarah panjang buat perhajian Indonesia," katanya.
Dalam kunjungannya, Dahnil juga menyorot semangat jamaah Aceh meski daerah asal baru saja dilanda musibah.
Ia menyampaikan rasa bangga karena pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) dari Aceh berjalan cepat, bahkan di tengah kondisi sulit.
“Kami sempat ragu pelunasan haji dari Aceh itu akan turun. Tapi ternyata salah satu pelunasan haji yang relatif cepat itu adalah Aceh," katanya.




