REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang tokoh yang memiliki literasi tinggi, tetapi sayangnya berakhlak rendah. Dialah Abdullah bin Sa’ad bin Sarh alias Abdullah bin Abi Sarah. Pada masa sebelum memperoleh amnesti dari Rasulullah SAW, hidupnya sungguh meresahkan kaum Muslimin.
Sosoknya memang tidak seperti kebanyakan orang Arab kala itu. Ia piawai membaca dan menulis. Lelaki berjulukan Abu Yahya ini, secara nasab, adalah saudara sepersusuan Utsman bin Affan.
Tentunya, karakteristik Abdullah bin Abi Sarah jauh berbeda daripada sang sahabat Nabi SAW yang berjulukan Dzun Nurain itu. Bila Utsman 100 persen taat pada Rasulullah SAW, dirinya justru cenderung membangkang. Alih-alih berwatak sami’na wa atha’na, putra dari seorang dedengkot kaum munafik itu beberapa kali membantah beliau. Padahal, ketika itu dirinya sudah berislam.
Ya, Abdullah menjadi Muslim sebelum peristiwa Penaklukan Makkah. Bahkan, ia turut serta dalam rombongan hijrah dari Makkah ke Madinah. Di Kota Nabi, dirinya sempat termasuk dalam jajaran para penulis wahyu.
Sebagai seorang juru tulis Nabi SAW, wajarlah bila ia menulis apa-apa yang memang diperintahkan oleh beliau. Sayangnya, akal dan batinnya mudah terjerumus rayuan setan.
Prof Muhammad Ridha dalam Sirah Nabawiyah menukil beberapa cerita dari Sirah al-Halabiyah. Dikisahkan, Abdullah bin Abi Sarah pernah menghadap Rasulullah SAW. Beliau lantas mendiktekan, “Samii’an bashiiraan".
Namun, yang ditulisnya malahan “’Aliman hakiiman". Tidak hanya itu. Tatkala beliau mendiktekan, “’Aliman hakiiman", ia dengan sengaja menulis “Ghafuuran rahiiman".
Pada suatu ketika, turunlah wahyu dari Allah SWT, yakni Alquran surah al-Mu’minun ayat 12 hingga 14. Rasulullah SAW kemudian menyuruh Abdullah untuk menuliskan ayat-ayat yang dilantunkan beliau itu.
Menjelang ujung ayat ke-14 dari surah al-Mu’minun, Abdullah tidak bisa menahan lisannya sehingga terucaplah kata-kata, “Fatabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin” (Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik).
Padahal, saat itu Nabi SAW belum mendiktekannya. Kemudian, beliau bersabda, “Tulislah itu, memang begitulah yang diturunkan oleh Allah.”
Sesudah tugasnya selesai, dengan bersumbar Abdullah mengatakan kepada dirinya sendiri, “Kalau Muhammad adalah nabi yang diturunkan kepada wahyu, maka aku pun nabi yang dituruni wahyu.”
Tidak berhenti di sana, ia pun nekat memanipulasi ayat Alquran. Bahkan, dengan sengaja digembar-gemborkannya kepada sebagian orang bahwa ayat tertentu adalah hasil “gubahan” dirinya.
Tentu saja, kaum musyrikin dan munafik gembira dengan kehebohan itu. Adapun Muslimin menjadi gusar dibuatnya.




