REPUBLIKA.CO.ID, Sikap pesimis dalam menghadapi ujian hidup bukan sekadar kelemahan mental, tetapi dapat mencerminkan prasangka buruk kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya sikap optimistis sebagai wujud husnudzan kepada Sang Pencipta, karena setiap keyakinan hamba akan berbanding lurus dengan pertolongan dan rahmat yang Allah berikan. Karena itu, umat Islam diajarkan untuk senantiasa berharap baik kepada Allah dalam segala keadaan.
Umat Islam pun seyogyanya berhati-hati dengan sikap pesimis saat menghadapi ujian hidup, karena hal tersebut sama dengan prasangka buruk kepada Allah SWT.
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata Nabi Muhammad SAW bersabda, "Allah 'azza wajalla berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR Imam Muslim)
Syekh Al-Izz bin Abdus Salam dalam kitab Syajaratul Maarif menjelaskan, berbaik sangka kepada Allah SWT merupakan bentuk mengagungkan pada rahmat Allah dan ampunan-Nya. Sehingga di dalam kondisi apapun yang menimpa seseorang, Syekh Al-Izz mengimbau kepada umat Islam untuk selalu berhusnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT.




