REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri, sebuah momen istimewa yang mengakhiri bulan suci Ramadhan.
Tahun ini, pada Ramadhan kita diberikan kesempatan untuk merenung dan bersyukur atas segala kebaikan, manfaat, dan kemaslahatan yang telah kita peroleh.
Hari kemenangan ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga momentum untuk memperdalam keimanan kita kepada Allah SWT dan memperkuat ikatan kebaikan dengan sesama dan menajamkan kepekaan hati untuk terus beramal saleh.
Idul Fitri, yang secara bahasa berarti kembali menjadi bersih, mengajarkan kita tentang pentingnya kembali ke fitrah manusia yang suci, sebagaimana seorang bayi yang baru lahir. Ini adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan, mempererat silaturahim, dan menyayangi mereka yang kurang beruntung, seperti anak-anak yatim piatu dan fakir miskin.
Salah satu kisah yang paling mengharukan dan populer tentang Idul Fitri adalah saat Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak yatim yang bersedih di Hari Raya. Dengan kasih sayang, Nabi Muhammad SAW membawa anak tersebut ke rumahnya, memberikan pakaian baru dan makanan, sehingga anak itu pun merasa gembira dan bersyukur.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang kebahagiaan kita sendiri, tapi juga tentang berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.
Dalam rangka merayakan Hari Raya ini, kita juga dianjurkan untuk bertemu dan bersilaturahim guna memperkuat persaudaraan. Alquran dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang beriman itu adalah bersaudara.