Kamis 05 Mar 2026 22:12 WIB

Iftar Istana, Ulama Titip Pesan ke Prabowo

Sejumlah ulama dan tokoh agama memanfaatkan momentum Iftar Ramadhan bersama Presiden.

lstana Negara
Foto: ANTARA FOTO
lstana Negara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah ulama dan tokoh agama memanfaatkan momentum Iftar Ramadhan bersama Presiden Prabowo Subianto, Kamis (5/3/2026), untuk menyampaikan doa, harapan, hingga masukan terkait berbagai isu yang berkembang, termasuk situasi di Timur Tengah.

Pendakwah kondang Muhammad Subki Al Bughury, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, berharap situasi global, khususnya konflik di Timur Tengah, segera mereda sehingga aktivitas ibadah umat, termasuk perjalanan umrah, dapat kembali berjalan normal.

Baca Juga

"Saya membawa jamaah umroh, kita lagi fokus jamaah yang tidak bisa berangkat, termasuk tiket Emirate saya yang sampai sekarang belum bisa terbang," katanya.

Menurutnya, sejumlah jamaah masih menghadapi ketidakpastian keberangkatan akibat situasi yang mempengaruhi penerbangan internasional.

Ia berharap kondisi segera membaik agar jamaah yang tertahan dapat kembali ke Tanah Air dan calon jamaah yang belum berangkat bisa segera terbang.

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa doa menjadi kekuatan utama umat, terlebih di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

"Kalau saya, mungkin doa, kan kita punya senjata paling ampuh, apalagi doa di Ramadhan di bulan baik," ujarnya.

Hal senada disampaikan ulama Buya Yahya yang menilai Ramadhan harus menjadi momentum menghadirkan kebaikan dan kedamaian di tengah situasi dunia yang penuh gejolak.

Ia mengajak masyarakat untuk memperbanyak doa bagi para pemimpin, termasuk Presiden Prabowo, karena menurutnya memimpin sebuah negara merupakan tugas yang sangat berat.

"Yang penting itu doa, karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak doakan pemimpin kita, bagimana mereka sukses dengan tugas-tugasnya," katanya.

Buya Yahya berharap doa dari umat dapat mengiringi kepemimpinan Presiden sehingga bangsa Indonesia tetap damai dan para pemimpin mampu menjalankan amanah dengan sukses.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Pusat Nabiel Al Musawa berharap dapat menyampaikan sejumlah pandangan kepada Presiden jika mendapat kesempatan.

Ia menyebut Presiden kemungkinan juga ingin mendengar masukan dari para tokoh agama terkait perkembangan situasi global, termasuk dinamika konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Terkait posisi Indonesia dalam Board of Peace (BoP), Nabiel menyampaikan pandangan bahwa keberadaan forum tersebut menurutnya kurang efektif.

"Kalau menurut kami, keberadaan BoP kurang efektif. Jadi, mungkin Presiden perlu meninjau ulang, kalau bisa mengundurkan diri lebih bagus," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement