REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Media Israel menyebarkan sebuah video di situs web mereka, yang diklaim merekam protes terbaru di ibu kota Iran, Teheran, dalam konteks meningkatnya ketegangan internal di negara tersebut.
Klip tersebut memperlihatkan kerumunan orang di salah satu jalan, di tengah teriakan dan penutupan jalan, serta upaya pasukan keamanan untuk membubarkan para pengunjuk rasa dengan menggunakan gas air mata.
Video tersebut, dikutip dari Aljazeera, Selasa (24/2/2026) mendokumentasikan protes terbaru pada 13 Februari 2026 dan dipublikasikan oleh Yedioth Ahronoth dan saluran televisi yang mencerminkan kemarahan publik yang meningkat terhadap otoritas Iran.
Akun-akun dan media yang menyebarkan video tersebut mengklaim bahwa video tersebut direkam di dalam kampus-kampus Iran selama gelombang protes terbaru, tanpa menyebutkan tanggal perekaman atau sumber aslinya, sehingga video tersebut menyebar sebagai bukti adanya kerusuhan baru di ibu kota Iran.
Namun, proses verifikasi mengungkapkan bahwa klip tersebut dipublikasikan sekitar sembilan tahun yang lalu, selama protes yang terjadi di salah satu universitas Iran pada saat itu.
Sebuah salinan video yang sama juga ditemukan diunggah pada 2017 di platform Facebook, yang menegaskan bahwa rekaman tersebut sudah lama dan tidak terkait dengan peristiwa terkini di Iran.
Iranian opposition media report protests against the Iranian regime that have erupted in multiple locations across the country.
The first video is said to show demonstrations at Amir Kabir University of Technology in Tehran. The second is reportedly from the city of Abdanan. pic.twitter.com/WYtLX6Jnk9
— Israel War Room (@IsraelWarRoom) February 21, 2026
Video ini beredar di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington selama beberapa pekan terakhir, dengan saling bertukarnya pesan peringatan dan pernyataan keras terkait masalah regional dan keamanan yang belum terselesaikan, mulai dari program nuklir Iran hingga penyebaran militer AS di kawasan tersebut.
Hal ini disertai dengan meningkatnya pembicaraan tentang gerakan militer, kemungkinan sanksi, dan persiapan pertahanan, yang menciptakan lingkungan media yang memanas sehingga mudah untuk menggunakan konten visual lama untuk mendukung narasi politik saat ini atau memperkuat narasi tentang kerentanan internal Iran.




