REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan suci Ramadhan tahun ini diperkirakan akan dimulai pada 18-19 Februari 2026, tergantung pada penampakan hilal. Selama bulan suci ini, umat Islam yang berpuasa akan menahan diri dari makan dan minum dari terbitnya hingga terbenamnya matahari, biasanya selama 12 hingga 15 jam, tergantung pada lokasi negara.
Umat ​​Islam meyakini Ramadhan adalah bulan di mana ayat-ayat pertama Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu.
Puasa tersebut mencakup pantang makan, minum, merokok, dan hubungan seksual selama siang hari untuk mencapai tingkat takwa yang lebih tinggi atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tapi mengapa Ramadhan dimulai pada tanggal yang berbeda setiap tahun? Ramadhan dimulai 10 hingga 12 hari lebih awal setiap tahun. Hal ini karena kalender Islam didasarkan pada kalender Hijriyah lunar, dengan bulan yang panjangnya 29 atau 30 hari.
Bagi hampir 90 persen populasi dunia yang tinggal di Belahan Bumi Utara, durasi puasa akan sedikit lebih pendek tahun ini dan akan terus berkurang hingga tahun 2031, ketika Ramadhan akan mencakup titik balik musim dingin, hari terpendek dalam setahun.
Bagi kaum muslimin yang berpuasa dan tinggal di selatan khatulistiwa, jumlah jam puasa akan lebih lama dibandingkan tahun lalu. Karena tahun lunar lebih pendek 11 hari dibandingkan tahun surya, Ramadhan akan dirayakan dua kali pada 2030 – pertama dimulai pada tanggal 5 Januari dan kemudian dimulai pada 26 Desember.




