Jumat 06 Feb 2026 05:21 WIB

Mengapa Islam Larang Minum Alkohol? Ini Alasannya

Islam memandang kesehatan manusia secara menyeluruh.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi minuman keras (miras).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ilustrasi minuman keras (miras).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Islam memandang kesehatan manusia secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual. Karena itu, segala sesuatu yang terbukti membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat, termasuk alkohol, dilarang untuk dikonsumsi.

Menukil artikel yang ditulis Aisha Stacey di AboutIslam, alkohol tidak hanya berdampak buruk pada tubuh, tetapi juga merusak akal dan kehidupan sosial. Konsumsi minuman keras dapat mengaburkan pikiran, menurunkan kemampuan mengambil keputusan, serta memicu perilaku berisiko seperti perjudian dan tindakan berbahaya lainnya.

Baca Juga

Dalam Alquran, larangan alkohol disebutkan secara tegas. Allah SWT berfirman bahwa minuman keras dan perjudian merupakan “perbuatan keji dari setan” dan umat manusia diperintahkan untuk menjauhinya (QS Al-Maidah: 90–91). Larangan ini menunjukkan komitmen Islam untuk melindungi manusia dari kerusakan moral dan sosial.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa alkohol memiliki dampak kesehatan yang serius. Konsumsi alkohol berlebihan dikaitkan dengan kerusakan otak, peningkatan risiko kanker, serta berbagai penyakit kronis. Alkohol juga dapat menyebabkan Sindrom Alkohol Janin (Fetal Alcohol Syndrome) pada bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsi alkohol selama kehamilan.

Selain itu, penyalahgunaan alkohol berkaitan erat dengan berbagai masalah sosial. Studi di Australia menunjukkan bahwa hampir setengah pelaku kejahatan kekerasan berada dalam kondisi mabuk saat kejadian. Alkohol juga berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas, kekerasan dalam rumah tangga, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.

"Alkohol bertanggung jawab atas 44 persen cedera akibat kebakaran, 34 persen kasus jatuh dan tenggelam, 30 persen kecelakaan mobil, 16 persen kasus penganiayaan anak, dan tujuh persen kecelakaan kerja,” tulis Stacey.

Dalam perspektif Islam, bahaya alkohol tidak hanya bersifat fisik dan sosial, tetapi juga spiritual. Alkohol dianggap dapat menjauhkan manusia dari mengingat Tuhan, mengganggu ibadah, serta memicu permusuhan dan kebencian di antara sesama manusia.

Stacey menjelaskan bahwa larangan alkohol dalam Islam diturunkan secara bertahap pada masa awal Islam. Setelah masyarakat memahami dampak buruknya, larangan total pun ditetapkan. Respons umat Islam saat itu sangat cepat—mereka segera meninggalkan minuman keras sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Tuhan.

Namun, meski melarang alkohol secara tegas, Islam tetap membuka pintu taubat bagi mereka yang ingin berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Komunitas Muslim didorong untuk mendukung, bukan mengucilkan, orang yang berusaha meninggalkan kecanduan.

Islam, menurut Stacey, adalah agama yang menekankan tanggung jawab sosial. Kebebasan individu tidak boleh merugikan orang lain, dan larangan alkohol dipandang sebagai bentuk perlindungan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat.

Alquran adalah kitab petunjuk yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Ia merupakan serangkaian instruksi dari Sang Pencipta untuk ciptaan-Nya. "Jika kita mengikuti instruksi ini, hidup kita akan mudah dan tenang, bahkan di tengah bencana dan kemalangan,” tulisnya.

Pada akhirnya, pelarangan alkohol dalam Islam bukan sekadar aturan ritual, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan, moralitas, dan harmoni sosial. Larangan tersebut mencerminkan prinsip dasar Islam untuk melindungi manusia dari kerusakan diri dan masyarakat.

photo
Infografis taubat - (Dok Republika)

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement