Senin 26 Jan 2026 05:55 WIB

Putra Presiden Iran Serukan Pemadaman Internet Diakhiri

Pemadaman internet dinilai semakin memperlebar jarak rakyat dan pemerintah Iran.

Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Teheran, Iran, Sabtu (10/1/2026). Protes nasional dimulai pada akhir Desember di Pasar Besar Teheran sebagai tanggapan terhadap memburuknya kondisi ekonomi.
Foto: ZUMA Press Wire via Reuters
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di Teheran, Iran, Sabtu (10/1/2026). Protes nasional dimulai pada akhir Desember di Pasar Besar Teheran sebagai tanggapan terhadap memburuknya kondisi ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Putra presiden Iran, Yousef Pezeshkian yang juga merupakan seorang penasihat pemerintah, pada Sabtu (24/1/2026), menyerukan agar konektivitas internet dipulihkan. Seruannya sekaligus memperingatkan bahwa pemadaman yang telah berlangsung lebih dari dua pekan itu akan memperburuk sentimen anti-pemerintah.

Yousef Pezeshkian, yang ayahnya Masoud terpilih sebagai presiden Iran pada 2024, mengatakan bahwa terus memadamkan internet akan menimbulkan ketidakpuasan dan memperlebar jarak antara rakyat dan pemerintah.

Baca Juga

“Ini berarti mereka yang sebelumnya tidak dan belum merasa tidak puas akan ditambahkan ke dalam daftar orang-orang yang tidak puas,” tulis Yousef dalam sebuah unggahan di Telegram yang kemudian dikutip oleh kantor berita resmi IRNA.

Risiko tersebut, katanya, lebih besar daripada risiko kembalinya aksi protes jika konektivitas dipulihkan.

Lebih dari 90 juta penduduk Iran sebagian besar telah terputus dari internet sejak pihak berwenang memberlakukan pemadaman pada 8 Januari di tengah gelombang protes besar yang melanda negara itu.

Di bawah perlindungan pemadaman tersebut, pemerintah melancarkan penindakan mematikan terhadap para pengunjuk rasa. Di mana, kelompok-kelompok hak asasi manusia mendokumentasikan beberapa ribu korban tewas dan LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia menyatakan angka akhirnya bisa melampaui 25.000. Sementara Pemerintah Iran menyebut jumlah korban tewas 3.117.

Yousef, yang merupakan penasihat media di kantor kepresidenan, mengatakan ia tidak mengetahui kapan akses internet akan dipulihkan.

Ia menyinggung kekhawatiran tentang penyebaran video dan gambar terkait ‘protes pekan lalu yang berubah menjadi kekerasan’ sebagai alasan internet tetap diputus, namun mengkritik logika tersebut.

Mengutip sebuah peribahasa Persia, ia menulis, “‘Orang yang catatannya bersih tidak perlu takut pada pemeriksaan’.”

Putra presiden itu menyalahkan campur tangan asing atas berubahnya protes menjadi kekerasan, tetapi mengatakan bahwa “pasukan keamanan dan penegak hukum mungkin telah melakukan kesalahan yang tidak ada seorang pun berniat membelanya dan yang harus ditangani”.

"Mematikan internet tidak akan menyelesaikan apa pun; itu hanya akan menunda masalah.”

SumberThe New Arab

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement