Jumat 23 Jan 2026 14:14 WIB

Indonesia Gabung Dewan Perdamaian, Ini Pandangan PBNU dan PP Muhammadiyah

langkah Indonesia di Dewan Perdamaian dapat membawa harapan baru.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi Lambang Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Lambang Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/ BoP) dinilai sebagai langkah diplomasi yang patut diapresiasi. Namun tetap perlu disikapi secara kritis agar tidak keluar dari prinsip keadilan, khususnya bagi Palestina.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menegaskan, partisipasi Indonesia harus memastikan Dewan Perdamaian benar-benar berpihak pada perdamaian yang adil dan tidak sekadar menjadi manuver politik Amerika Serikat (AS).

Baca Juga

Terkait gabungnya Indonesia ke Dewan Perdamaian, Gus Fahrur mengatakan bahwa keputusan pemerintah Indonesia perlu disambut positif sebagai upaya diplomasi penting. Namun harus tetap diiringi seruan untuk tetap kritis dan memastikan inisiatif ini benar-benar berpihak pada perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina.

Ia menambahkan, supaya Dewan Perdamaian bukan sekadar manuver politik Amerika Serikat dan tidak terjadi tumpang tindih dengan kebijakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Secara keseluruhan, langkah ini bisa dilihat sebagai babak baru diplomasi Indonesia dalam isu Gaza," kata Gus Fahrur kepada Republika, Jumat (23/1/2026)

Gus Fahrur berharap langkah Indonesia di Dewan Perdamaian dapat membawa harapan baru untuk solusi damai, meskipun masih menimbulkan perdebatan tentang metode dan peranannya dibandingkan badan internasional lainnya yang sudah ada.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement