REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengapresiasi aparat kepolisian di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menerapkan tilang baca Alquran kepada masyarakat Muslim yang melanggar lalu lintas. Metode ini disebut juga dengan tilang syariah.
Dia mengatakan, sanksi baca Alquran tersebut tidak menjadi masalah jika dapat memotivasi masyarakat Muslim untuk belajar membaca Alquran selama Ramadhan.
"Bagi yang pelanggar dianggap tidak berat kemudian mereka dididik dengan baca Alquran, saya pikir baik-baik saja, sehingga memotivasi orang-orang untuk belajar mengaji," ujar Kiai Cholil saat dihubungi Republika, Selasa (4/3/2025). "Karena kalau enggak bisa ngaji, hukuman tilangnya akan lebih parah," ucap dia.
Meski demikian, Kiai Cholil juga mengingatkan kepada polisi agar tilang syariah yang diberlakukan tersebut jangan sampai justru membuat masyarakat sengaja melakukan pelanggaran.
"Tapi jangan sampai terjadi orang sengaja melanggar agar dia disuruh ngaji. Itu malah nanti menjadi pelanggaran secara berjamaah," kata Kiai Cholil.
Pengasuh Ponpes Cendikia Amanah Depok ini melanjutkan, dalam memaknai syariah polisi hendaknya menempatkan kepada yang sesuai dengan ajaran Islam."Tetapi dengan cara mendidik orang, membaca Alquran, saya pikir baik-baik saja di momentum bulan Ramadhan," jelas Kiai Cholil.
