Rabu 19 Feb 2025 21:03 WIB

Rasulullah Pernah Melarang Penulisan Hadis, Mengapa?

Inilah awal mula penulisan hadis dalam sejarah Islam.

Ilustrasi Hadis
Foto: MGROL100
Ilustrasi Hadis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Yusuf Qardhawi dalam Kaifa Nata’amalu ma’a as-Sunnah an-Nabawiyyah, menjelaskan, Sunnah Nabi Muhammad SAW merupakan penafsiran Alquran dalam praktik. Sebab, Allah SWT sendiri telah menegaskan, Rasulullah SAW adalah contoh bagi sekalian manusia. “Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian” (QS al-Ahzab: 21).

Istilah lain untuk Sunnah Nabi SAW adalah hadis atau al-hadits. Secara kebahasaan, hadits memiliki sejumlah arti, yakni ‘baru’, ‘sesuatu yang dikutip’, serta ‘sesuatu yang sedikit dan banyak.’ Menurut Syekh Manna al-Qaththan dalam Mabahits fii ‘Ulumil Hadits, pengertian hadis adalah apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, dalam masa sebelum ataupun sesudah kenabiannya.

Baca Juga

Apakah hadis ditulis beriringan dengan penulisan Alquran? Ternyata, bukan demikian halnya.

Sejak Nabi SAW menerima wahyu, sejumlah sahabat beliau menuliskan atau mencatat Alquran pada pelbagai alas, semisal pelepah kurma, lembaran kulit ternak, permukaan batu, dan sebagainya. Di antara banyak sahabat yang dikenal sebagai pencatat Alquran ialah Zaid bin Tsabit, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, serta Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Alih-alih menginstruksikan atau menyarankan, Nabi SAW terlebih dahulu pernah melarang para sahabat untuk mencatat hadis.

Al-Khudri meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu sekalian menulis apa pun dariku. Dan, barangsiapa yang menulis dariku selain Alquran, maka hapuslah” (HR Muslim).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Pada suatu ketika, Abu Hurairah dan beberapa Muslimin sedang menulis. Keduanya kemudian dilihat Rasulullah SAW.

“Apa yang telah kalian tulis?” tanya Nabi SAW.

“Perkataan (hadis-hadis) yang telah kami dengar darimu, ya Rasulullah,” jawab mereka.

“Kitab selain Kitabullah (Alquran)? Tidakkah kalian tahu, umat-umat sebelum kalian tidaklah tersesat kecuali karena telah menulis kitab-kitab bersama kitab Allah?” tanya beliau retoris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement