Selasa 11 Jun 2024 07:37 WIB

Mengapa Perebutan Harta dan Takhta yang Terkadang Mematikan tak Pernah Habis?

Manusia akan berebut harta dan takhta selama hidup di dunia

Ilustrasi Perebutan dunia. Manusia akan berebut harta dan takhta selama hidup di dunia
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi Perebutan dunia. Manusia akan berebut harta dan takhta selama hidup di dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jika kita cermati, kita sering sekali mendapatkan cerita-cerita tentang persaingan mendapatkan harta dan takhta di sekitar kita. Mengapa hal ini terjadi?

Harta dan tahta memang digemari manusia dan menjadi simbol kemewahan dunia. Menurut Imam Ghazali, keduanya digemari, karena manusia mengira dengan keduanya, semua cita-citanya dapat dipenuhi dengan mudah.

Baca Juga

Itu sebabnya, harta dan tahta diperebutkan sepanjang waktu. Dalam Alquran disebutkan kebiasaan orang kafir yang selalu menunjukkan harta dan kuasa yang dimiliki untuk membanggakan diri dan merendahkan orang yang beriman.

وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat. “ (QS Al-Kahfi ayat 34).

Dari sini, kita dapat memahami mengapa persaingan dalam memperebutkan harta dan tahta tak pernah berakhir. Rasulullah SAW memberi ilustrasi yang menarik soal ini.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR Bukhari no 6439 dan Muslim no 1048)

Allah SWT mengingatkan kaum Muslim agar tidak terpedaya oleh persaingan yang membuat mereka lalai dan lupa kepada Tuhan. Firman-Nya:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (QS al-Jumuah ayat 11.)

Alkisah, di Makkah, sampai dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, persaingan antarsuku terus berlangsung. Diceritakan, Banu Sahm bersaing dengan Banu 'Abdi Manaf dalam memperebutkan harta dan tahta.

Sampai-sampai mereka mendatangi kuburan untuk menghitung dan menunjukkan anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Lalu, diturunkan surah Al-Takatsur:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

''Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.'' (Al-Takatsur: 1).

Menurut banyak pakar tafsir, persaingan yang dimaksud dalam ayat di atas ialah persaingan dalam memperbanyak harta dan tahta. Persaingan yang dapat dipahami dari kata al-takatsur itu menunjuk pada persaingan antara dua kelompok atau lebih tanpa menghiraukan norma-norma hukum dan nilai-nilai agama.

Persaingan semacam itu dikecam oleh agama karena membuat pelakunya lalai atau alpa. Sikap lalai itu disebut al-lahwa, yaitu keadaan seseorang terpesona kepada sesuatu, sehingga melupakan sesuatu yang lain yang justru lebih penting.

Orang-orang kafir disebut lalai (lahiyah) karena hati dan pikiran mereka hanya tertuju pada harta dan kemewahan dunia, dengan melupakan petunjuk Tuhan dan kebahagiaan abadi di negeri akhirat. (QS Al-Anbiya: 3).

Ibarat suatu permainan, persaingan dalam memperebutkan harta dan tahta itu sulit dilangsungkan dengan jujur, karena pihak-pihak yang terlibat dalam persaingan itu diduga telah mengidap penyakit lalai dan alpa.

Rusaknya lagi, mereka tidak dapat menyadari kelalaian itu, kecuali mereka telah mati atau dibaringkan di liang lahat. Manusia, kata Imam Ali, terkadang memang aneh. Sewaktu masih hidup, mereka tidur (laali), tetapi setelah mati, mereka justru terbangun (sadar).

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement