Sabtu 04 May 2024 05:46 WIB

Polisi Masuki Universitas untuk Mengusir Mahasiswa Pro Palestina 

Demonstrasi pro Palestina terus dilakukan.

Rep: Mgrol150/ Red: Muhammad Hafil
Orang-orang yang memegang bendera Palestina meneriakkan slogan-slogan di Place de la Republique saat demonstrasi mendukung rakyat Palestina di Paris, Prancis, 2 November 2023.
Foto: EPA-EFE/YOAN VALAT
Orang-orang yang memegang bendera Palestina meneriakkan slogan-slogan di Place de la Republique saat demonstrasi mendukung rakyat Palestina di Paris, Prancis, 2 November 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polisi memasuki universitas Sciences Po Paris untuk mengusir puluhan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi pro Gaza di aula depan, ketika protes yang dilakukan memicu perdebatan politik tentang konflik Israel-Palestina.

“Sekitar 50 siswa masih berada di dalam rue Saint-Guillaume dan pengunjuk rasa lainnya telah dibawa keluar secara damai dalam kelompok yang terdiri dari 10 orang oleh petugas. Beberapa siswa diseret dan yang lainnya dicengkeram di kepala atau bahu,” kata salah seorang mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut, dilansir GulfNews, Jumat (03/05/2024).

Baca Juga

Pekerja Administrasi universitas tersebut telah menutup gedung utama Sciences Po sebagai tanggapan atas aksi duduk tersebut dan sebagai gantinya menginisiasi kelas jarak jauh. Mereka mengatakan bahwa sekitar 70 hingga 80 orang menduduki serambi gedung pusat kota Paris.

Perdana Menteri Perancis, Gabriel Attal mengatakan protes semacam itu akan ditangani dengan “ketegasan total”, dan menambahkan bahwa 23 lokasi universitas telah dievakuasi. 

Mahasiswa dari Komite Palestina di universitas tersebut sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa mereka menghadapi tanggapan yang tidak adil dari kepolisian yang telah memblokir akses ke situs tersebut sebelum pindah ke sana. Mereka juga mengeluhkan kurangnya bantuan medis untuk tujuh pelajar yang melakukan mogok makan sebagai solidaritas dengan para korban Palestina.

Sciences Po dikenal secara luas dianggap sebagai sekolah ilmu politik terbaik di Prancis salah satu alumninya adalah Presiden Emmanuel Macron, yang juga telah menyaksikan aksi siswa di berbagai lokasi di seluruh negeri sebagai protes terhadap perang di Gaza dan krisis kemanusiaan yang terjadi kemudian.

Protes berjalan lambat menyebar ke universitas-universitas terkemuka lainnya, tidak seperti di Amerika Serikat yang di mana demonstrasi di sekitar 40 fasilitas universitas terkadang berubah menjadi bentrokan dengan polisi dan penangkapan massal. Namun demonstrasi sejauh ini berlangsung lebih damai di Perancis dan sekaligus rumah bagi populasi Yahudi terbesar di luar Israel dan Amerika Serikat dan merupakan komunitas Muslim terbesar di Eropa. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement