Senin 04 Mar 2024 22:37 WIB

Jusuf Kalla dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Jalan Baru Moderasi Beragama

Haedar dinilai sosok yang bisa menjadi penghubung berbagai macam latar belakang.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Ani Nursalikah
Sejumlah Tokoh Nasional Dalam Peluncuran Buku Jalan Baru Moderasi Beragama Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir di Auditorium Perpusnas Jakarta, Senin (4/3/2024).
Foto: Republika/Rahmat Fajar
Sejumlah Tokoh Nasional Dalam Peluncuran Buku Jalan Baru Moderasi Beragama Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir di Auditorium Perpusnas Jakarta, Senin (4/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peluncuran buku Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional yang berlangsung di Auditorium Perpusnas Nasional, Jakarta, Senin (4/3/2024).

Para tokoh tersebut, antara lain Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Susi Pudjiastuti, dan Ustadz Adi Hidayat.

Baca Juga

Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah Fajar Rizal Ul Haq mengatakan kehadiran para tokoh sangat penting di acara ini. Hal tersebut untuk menegaskan adanya kesamaan ide tentang merawat Indonesia melalui jalan moderat.

"Genetik bangsa kita moderat. Makanya ketika ada benturan selalu gagal," ujar Fajar dalam acara tersebut.

Fajar mengaku telah melihat spirit jalam tengah dalam sosok Haedar Nashir. Menurut Fajar, Haedar telah menawarkan jalan tengah di bidang agama dan politik jalan tengah dalam hal politik.

Fajar mengungkapkan sejak awal menyusun buku ini tertangkap situasi di tengah masyarakat beberapa gejolak. Oleh sebab itu, kata Fajar, konsep jalan tengah memang cocok dibumikan di Indonesia. Khususnya bagi umat Islam, jalan tengah penting untuk kehidupan beragama, bangsa dan negara.

Dekan Fisip Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Philips J. Vermonte mengatakan Haedaer selalu menggaungkan gagasan kewajaran dalam bersikap baik di bidang agama, politik dan ekonomi. Menurut Philips pemikiran Haedar perli didukung karena masyarakat Indonesia yang majemuk.

"Pak Haedar ini terus menerus untuk membawa kita selalu di tengah," katanya.

Philips mengatakan Haedar adalah sosok yang bisa menjadi penghubung dari berbagai macam latar belakang. Haedar selalu mengedepankan dialog. Sebab dengan dialog diyakini akan tercipta sikap moderat.

Namun, Philips mengakui tidak mudah mengajak seseorang berpikir moderat. Sebab hal ini merupakan proses sosiologis yang membutuhkan jalan panjang.

"Semakin banyak tokoh-tokoh, orang-orang yang  pak Haedar percayai bisa menjadi filter agar kita tidak menjadi ekstrimis," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement