Rabu 07 Feb 2024 19:00 WIB

5 Perkara Terpuji dalam Ajaran Zuhud yang Diajarkan Rasulullah SAW

Zuhud merupakan ajaran agung agar tak ditaklukkan dunia.

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi berdoa diberikan kezuhudan dunia. Zuhud merupakan ajaran agung agar tak ditaklukkan dunia
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi berdoa diberikan kezuhudan dunia. Zuhud merupakan ajaran agung agar tak ditaklukkan dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam kitab Nashaih al-Ibad karyanya, menjelaskan ada lima hal terpuji dalam zuhud. 

Dilansir dari kitab Nashaih al-Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008, sebagaimana yang dinyatakan sebagian hukama yakni para ahli hikmah atau makrifat sebagai berikut:

Baca Juga

في الزهد خمس خصال الثقة بالله والتبري عن الخلق والاخلاص في العمل واحتمال الظلم والقناعة بما في اليد

"Di dalam zuhud terkandung lima perkara terpuji, yaitu percaya penuh kepada Allah, terbebas diri dari sesama makhluk, tulus ikhlas dalam berbuat, kesanggupan memikul kezaliman, dan kecukupan diri dengan apa yang ada di tangan." (Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Banteni)

 

Sebagian hukama berpendapat bahwa di dalam zuhud itu terkandung lima perkara yang terpuji.

Pertama, berpegang teguh kepada Allah SWT serta cinta fakir. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Al Mubarak, Syaqiq Al Balkhi dan Yusuf bin Asbath, "Satu dari tanda zuhud adalah tidak akan kuat zuhudnya selain dengan berpegang teguh kepada Allah."

Kedua, membebaskan diri dari sesama makhluk, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad Darani, "Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang melalaikan dari Allah SWT."

Ketiga, tulus ikhlas dalam berbuat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Mu'adz, "Seseorang tidak akan sampai pada hakikat zuhud, hingga terdapat pada dirinya akan tiga perkara, yaitu amal perbuatan tanpa iming-iming, ucapan tanpa disertai perasaan tamak dan kemuliaan tanpa kepangkatan."

Keempat, kesanggupan dalam memikul kezaliman, sebagaimana yang dapat dipahami dari sabda Rasulullah SAW yang artinya sebagai berikut. 

"Zuhud di dunia itu bukanlah mengharamkan perkara yang halal dan bukan (pula) menyia-nyiakan harta, tetapi kezuhudan di dunia itu janganlah kamu lebih berpegang teguh pada apa-apa yang ada di tanganmu dari apa-apa yang ada di tangan Allah dan jika kamu ditimpa suatu musibah, maka kamu lebih senang jika seandainya musibah itu tetap ditimpakan kepadamu, karena memandang pahalanya."

Kelima, merasa cukup dengan apa yang ada di tangan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Junaidi, "Zuhud itu adalah mengosongkan hati dari perkara yang tiada di tanganmu."

Sufyan Ats-Tsauri juga mengatakan, "Zuhud di dunia adalah tidak terlalu berangan-angan, tidak makan dengan makanan yang kasar dan tidak juga dengan memakai pakaian yang semacam mantel. Inilah di antara yang termasuk dari tanda-tanda zuhud dan sebab-sebab yang membangkitkannya. Jadi, orang yang zuhud itu adalah orang yang tidak bergembira atas dunia atau harta yang dimilikinya dan tidak berduka atas dunia atau harta yang tidak dimilikinya."

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement