Sabtu 03 Feb 2024 08:08 WIB

Turki Masih Gencar Menangkap Mata-mata Israel

Tiga puluh empat orang ditahan polisi Turki karena dicurigai sebagai mata-mata.

Rep: Mabruroh / Red: Setyanavidita livicansera
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara pada pertemuan promosi calon walikota Istanbul dari Partai AK (Partai Keadilan dan Pembangunan) menjelang pemilihan kepala daerah di Istanbul, Turki.
Foto: EPA-EFE/ERDEM SAHIN
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara pada pertemuan promosi calon walikota Istanbul dari Partai AK (Partai Keadilan dan Pembangunan) menjelang pemilihan kepala daerah di Istanbul, Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Otoritas Turki telah menahan tujuh orang yang dicurigai menjual informasi ke badan intelijen Israel, Mossad melalui detektif swasta, kata sumber keamanan pada Jumat (2/2/2024). Otoritas Turki pun segera menggrebek kediaman para mata-mata ini.

“Bertindak atas surat perintah yang dikeluarkan oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Istanbul, unit kontraterorisme polisi Turki dan petugas cabang Organisasi Intelijen Nasional (MIT) melakukan penggerebekan di Istanbul dan kota pantai barat Izmir,” kata sumber, dilansir dari Daily Sabah, Jumat (2/2/2024).

Baca Juga

Penyelidikan MIT menemukan Mossad menggunakan detektif swasta untuk melacak targetnya di Turki, yang akan mengumpulkan informasi dan dokumen biografi, melakukan pengintaian, mengambil gambar, dan melacak dan menyadap target. Dua tersangka telah ditangkap di masa lalu sebagai bagian dari penyelidikan yang sama, kata sumber menambahkan.

Bulan lalu, 34 orang ditahan oleh polisi Turki karena juga dicurigai sebagai memata-mata Mossad Israel. Mereka dituduh merencanakan untuk melakukan kegiatan yang mencakup pengintaian dan "mengejar, menyerang, dan menculik" warga negara asing yang tinggal di Turki.

 

Pada saat itu, Menteri Kehakiman Yılmaz Tunc mengatakan sebagian besar tersangka didakwa melakukan "spionase politik atau militer" atas nama intelijen Israel. Mossad dikatakan telah merekrut warga Palestina dan warga negara Suriah di Turki, sebagai bagian dari operasi terhadap orang asing yang tinggal di Turki.

Setelah penangkapan 2 Januari 2024, Anadolu Agency (AA) mengutip dokumen penuntutan yang mengatakan operasi tersebut menargetkan "Warga negara Palestina dan keluarga mereka dalam lingkup konflik Israel-Palestina yang sedang berlangsung."

Kepala badan keamanan domestik, Shin Bet Israel mengatakan pada Desember bahwa organisasinya siap untuk menargetkan Hamas di mana saja, termasuk di Lebanon, Turki dan Qatar. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Israel tentang "konsekuensi serius" jika Israel terus maju dengan ancamannya untuk menyerang pejabat Hamas di tanah Turki.

Pada Desember 2022, MIT menahan 68 tersangka dalam operasi yang menargetkan detektif swasta dan operasi teknis yang bekerja untuk Mossad.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement