Selasa 30 Jan 2024 23:45 WIB

Temuan Ini Ungkap Melonjaknya Diskriminasi Muslim dan Warga Palestina di Amerika

Genosida di Gaza berimbas pada diskriminasi Muslim di Amerika

Rep: Umar Mukhtar / Red: Nashih Nashrullah
Warga Palestina mendoakan jenazah korban pemboman Israel yang dibawa dari Rumah Sakit Shifa sebelum menguburkannya di kuburan massal di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rabu, (22/11/2023).
Foto: AP Photo/Mohammed Dahman
Warga Palestina mendoakan jenazah korban pemboman Israel yang dibawa dari Rumah Sakit Shifa sebelum menguburkannya di kuburan massal di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rabu, (22/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Insiden kebencian serta diskriminasi terhadap Muslim dan warga Palestina di seluruh wilayah Amerika Serikat  meningkat secara drastis. Ini seiring dengan berlanjutnya serangan genosida Israel di Gaza dalam tiga bulan terakhir tahun 2023.

Hal tersebut diumumkan oleh kelompok advokasi dan hak-hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat, sebagaimana dilansir laman Truthout, Selasa (30/1/2024).

Baca Juga

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) merilis data yang menunjukkan bahwa organisasi tersebut menerima 3.578 pengaduan kebencian anti-Muslim dan anti-Palestina antara bulan Oktober dan Desember 2023. Angka ini meningkat sebesar 178 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Peningkatan kebencian terjadi setelah, pada awal 2023, CAIR melaporkan bahwa pada 2022 terjadi penurunan pengaduan kebencian anti-Muslim untuk pertama kalinya sejak organisasi tersebut mulai melacak insiden serupa pada tahun 1995, dengan total 5.156 pengaduan secara nasional pada tahun 2022.

Lonjakan keluhan ini terjadi ketika komunitas Muslim dan Palestina di Amerika Serikat  menyaksikan gelombang kebencian dan kekerasan baru dalam beberapa bulan terakhir. Para pejabat Israel dan Zionis Amerika Serikat  memicu sentimen anti-Palestina dan melontarkan retorika yang tidak manusiawi mengenai warga Palestina yang dibantai secara massal di Amerika.

Direktur Penelitian dan Advokasi CAIR, Corey Saylor, menyatakan, dalam menghadapi kebencian yang tiada henti dan fitnah palsu, Muslim Amerika, Arab dan koalisi luas Yahudi, Kristen, Afrika-Amerika, Asia-Amerika, dan lainnya terus menyerukan keadilan bagi Palestina.

"Koalisi ini tahu bahwa cara menghentikan kebencian adalah dengan mengakhiri apartheid, pendudukan, dan genosida yang terjadi di Palestina," kata dia.

Di antara insiden-insiden ini adalah pembunuhan Wadea Al-Fayoume pada Oktober 2023 lalu, seorang anak laki-laki Palestina-Amerika berusia 6 tahun yang tinggal di lingkungan di luar Chicago bersama ibunya.

Pemilik rumah, seorang pria kulit putih bernama Joseph Czuba, diduga terobsesi dengan teori konspirasi konservatif Islamofobia tentang hari jihad nasional yang menyebar setelah serangan Israel di Gaza dimulai. Dia menikam Al-Fayoume sebanyak 26 kali dan membunuhnya, dan menyerang ibunya dengan pisau, mengirimnya ke rumah sakit.

Baca juga: Ingin Segala Urusan Dipermudah Allah SWT? Baca Doa dari Alquran Berikut Ini

Kemudian, pada November 2023, Jason J Eaton, seorang pria kulit putih, diduga menembak dan melukai tiga mahasiswa Palestina-Amerika di Burlington, Vermont, melumpuhkan salah satu dari mereka dengan menembaknya di tulang belakang.

Para pelajar tersebut dilaporkan mengenakan keffiyeh, syal tradisional Arab yang melambangkan kebanggaan dan perlawanan Palestina, ketika mereka ditembak.

Diskriminasi dalam pekerjaan merupakan proporsi pengaduan tertinggi yang dikumpulkan CAIR, mewakili sekitar seperlima dari seluruh insiden.

Dua kategori berikutnya dengan insiden terbanyak adalah kejahatan rasial dan diskriminasi pendidikan, yang keduanya mewakili 13 persen insiden, menurut temuan kelompok tersebut.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kebencian terhadap warga Palestina dan Muslim terkait erat dengan retorika politik seputar kolonialisme pemukim Israel di Palestina, dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan meluasnya sentimen pro-Israel di kalangan politisi yang memicu Islamofobia dan sebaliknya.

photo
BUKTI GENOSIDA ISRAEL - (Republika)

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement