Jumat 01 Dec 2023 01:21 WIB

Yordania Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional untuk Bantuan Kemanusiaan Gaza

Konferensi ini mengoordinasikan bantuan kemanusiaan ke Gaza yang hancur.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Seorang pria Palestina duduk di kursi berlengan di luar bangunan yang hancur di Kota Gaza pada Rabu, 29 November 2023, hari keenam gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel.
Foto: AP Photo/Mohammed Hajjar
Seorang pria Palestina duduk di kursi berlengan di luar bangunan yang hancur di Kota Gaza pada Rabu, 29 November 2023, hari keenam gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Yordania akan menjadi tuan rumah konferensi internasional untuk mengoordinasikan bantuan kemanusiaan ke Gaza yang hancur akibat perang. Konferensi ini dihadiri oleh badan-badan utama PBB dan badan-badan bantuan re

“Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths dan badan-badan penting PBB serta organisasi non-pemerintah (LSM) yang terlibat dalam meningkatkan bantuan ke Gaza akan hadir pada konferensi tersebut, bersama dengan perwakilan negara-negara Barat dan Arab yang terlibat dalam upaya bantuan tersebut,” kata mereka, dilansir dari Al Arabiya, Kamis (30/11/2023).

Baca Juga

Konferensi tersebut, yang akan diadakan secara tertutup, akan dihadiri oleh Raja Abdullah yang telah melobi para pemimpin Barat untuk mendukung resolusi PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

Gencatan senjata selama empat hari yang kemudian diperpanjang menjadi dua hari, telah memberikan jeda pertama dalam pemboman di Gaza. Sebagian besar bagian utara wilayah pesisir berpenduduk 2,3 juta jiwa tersebut telah hancur menjadi puing-puing.

 

Raja Yordania menyatakan Israel melakukan kejahatan perang dengan kampanye pengeboman tanpa henti yang telah menyebabkan sedikitnya 15 ribu orang meninggal dunia. Pengepungan terhadap daerah kantong yang menghalangi masuknya obat-obatan, makanan dan bahan bakar selama berminggu-minggu serta memutus pasokan listrik.

Tindakan Israel ini merupakan respons terhadap serangan militan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 200 orang saat kembali ke Gaza.

Para pejabat mengatakan, Raja Yordania akan meminta peserta untuk mendorong Israel mengakhiri pengepungannya terhadap daerah kantong tersebut dan memungkinkan aliran barang tanpa hambatan dengan membuka penyeberangan perbatasan tambahan.

Para pejabat PBB mengatakan mereka sudah mendesak Israel untuk membuka kembali penyeberangan Kerem Shalom yang telah digunakan untuk mengangkut lebih dari 60 persen truk menuju Gaza sebelum konflik saat ini.

Saat ini, sebagian besar truk yang membawa bantuan melalui Rafah, satu-satunya pintu masuk terbuka ke Gaza, harus terlebih dahulu melalui inspeksi Israel di penyeberangan Nitzana, untuk memastikan bahwa bahan bakar atau barang dengan penggunaan ganda tidak diperbolehkan.

“Sistem inspeksi telah menunda bantuan yang sangat dibutuhkan,” kata para pekerja bantuan.

Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu, mendesak badan dunia tersebut untuk mengadopsi sebuah resolusi untuk mengakhiri perang. Dia mengatakan diamnya Dewan Keamanan memberikan Israel kedok atas kejahatan Israel

“Satu-satunya jalan menuju keamanan dan perdamaian adalah berakhirnya pendudukan Israel atas tanah Palestina,” kata Ayman Safadi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement