Senin 13 Nov 2023 21:15 WIB

Serangan Rudal Hizbullah Lukai 15 Tentara Israel

Pos Israel di dekat kota perbatasan Mais Al-Jabal Lebanon juga menjadi target.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Asap hitam mengepul dari serangan udara Israel di pinggiran Aita al-Shaab, desa perbatasan Lebanon dengan Israel seperti yang terlihat dari desa Rmeish, di Lebanon selatan, Senin, 13 November 2023.
Foto: AP Photo/Hussein Malla
Asap hitam mengepul dari serangan udara Israel di pinggiran Aita al-Shaab, desa perbatasan Lebanon dengan Israel seperti yang terlihat dari desa Rmeish, di Lebanon selatan, Senin, 13 November 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Tentara rezim zionis Israel mengonfirmasi ada tujuh tentaranya yang terluka dalam serangan mortir dari Lebanon. Tidak hanya itu, 15 tentara Israel juga dilaporkan terkena serangan rudal yang diluncurkan Hizbullah.

"Tujuh tentara terluka ringan dalam serangan mortir dari Lebanon di daerah Manara hari ini," kata militer Israel dalam sebuah pernyataan pada Ahad (12/11/2023) sore waktu setempat.

Baca Juga

Laporan media lokal Lebanon mengungkapkan sebanyak 15 tentara Israel terluka setelah menjadi target dalam operasi serangan rudal yang dilakukan oleh pasukan Hizbullah terhadap pos militer Israel Dovev. Media Israel, Times of Israel melaporkan semua tentara Israel dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Militer Israel juga mengatakan sekitar 15 roket ditembakkan dari Lebanon ke Israel utara. Empat proyektil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome, sementara sisanya mendarat di area terbuka, tidak menyebabkan cedera atau kerusakan.

 

Koresponden TV Al-Manar di Lebanon selatan menyampaikan, roket Salvo ditembakkan dari Lebanon selatan menuju wilayah pendudukan di Palestina. Layanan berita Hizbullah mengatakan kelompok perlawanan Muslim di Lebanon melaporkan adanya korban langsung.

Hal itu terjadi ketika para pejuang menargetkan pos Birkat Risha Israel. Koresponden Al-Manar lebih lanjut menyebutkan pos Israel di dekat kota perbatasan Mais Al-Jabal Lebanon juga menjadi target serangan.

Di pihak Palestina, Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh pada Senin ini menolak seruan Israel untuk mendirikan kamp pengungsi sementara bagi pengungsi Palestina di Jalur Gaza selatan.

"Kami ingin rakyat kami kembali ke rumah mereka, tempat mereka terpaksa mengungsi," kata Shtayyeh dalam rapat kabinet di Kota Ramallah, Tepi Barat, dilansir Anadolu Agency, Senin (13/11/2023).

Shtayyeh mengatakan pihak berwenang Palestina berupaya memastikan pengiriman makanan dan obat-obatan ke Jalur Gaza yang diblokade. "Kami melakukan segala kemungkinan untuk menyelamatkan rakyat kami di Gaza," katanya.

Shtayyeh mendesak PBB dan Uni Eropa mengirimkan bantuan kemanusiaan melalui udara ke daerah kantong yang terkepung, khususnya Jalur Gaza bagian utara. "Kami juga meminta PBB dan UE membuka koridor lain untuk pengiriman bantuan ke Gaza dan tidak membatasinya hanya pada penyeberangan Rafah dengan Mesir," tambahnya.

Lebih dari 11.100 warga Palestina gugur, termasuk lebih dari 8.000 anak-anak dan wanita, dalam serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza sejak bulan lalu, kata kantor media pemerintah di Gaza pada Ahad (12/11/2023). Jumlah korban tewas di Israel hampir 1.200, menurut angka resmi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement