Rabu 25 Oct 2023 17:33 WIB

Gus Ulil: PBNU Bukan Parpol, tak akan Dikte Suara Warga

PBNU membebaskan warga NU untuk punya suara yang berbeda-beda.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Muhammad Hafil
PBNU membebaskan warga NU untuk punya suara yang berbeda-beda. Foto:    (ilustrasi) logo nahdlatul ulama
Foto: tangkapan layar wikipedia
PBNU membebaskan warga NU untuk punya suara yang berbeda-beda. Foto: (ilustrasi) logo nahdlatul ulama

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyatakan, PBNU bukan kontestan ataupun partai politik. Sebab itu, PBNU tidak akan mendikte suara warganya untuk memilih seuatu kelompok tertentu. PBNU membebaskan warga NU untuk punya suara yang berbeda-beda.

 “Tidak akan mendikte suara warga karena PBNU ini bukan kontestan politik. Itu kata Gus Yahya ya. PBNU bukan partai politik karena itu tidak mempunyai kapasitas untuk mengarahkan suara ke kelompok tertentu. Masing-masing warga NU punya suara yang berbeda-beda,” ujar Ulil ketika ditemui di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (25/10/2023).

Baca Juga

 Ulil menambahkan, PBNU punya panduan berpolitik yang dirumuskan dalam Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta, pada 1989. Di mana, panduan berpolitik PBNU itu berisi sembilan pedoman, yang salah satunya adalah memungkinkan adanya perbedaan aspirasi politik di antara warga NU dengan menggunakan cara yang berakhlak dan menghargai pilihan masing-masing.

“Salah satunya adalah perbedaan aspirasi politik di antara warga NU itu dimungkinkan, tapi tidak boleh dilakukan dengan cara yang tidak berakhlak. Harus berakhlak, tawadhu, dan menghargai pilihan masing-masing,” kata dia.

 

Menurut Ulil, suara warga NU terhadap tiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam survei terkini menunjukkan hal yang natural bagi NU. Di mana, kata dia, suara NU sejak dahulu memang tersebar dan tidak terarah ke kelompok tertentu saja.

“Memang suara NU kan dari dulu tersebar ya. Tersebar di banyak partai dan di banyak calon-calon presiden. Jadi memang begitu. Ini natural saja. Suara NU itu sama dengan suara bangsa Indonesia, tersebar di mana-mana. Kyainya juga begitu, tersebar di mana-mana,” kata dia.

Sebelumnya, survei pada 1-6 Oktober 2023  Alvara Research Center memotret pilihan politik warga NU jelang Pilpres 2024. Ternyata, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yang diusung PKB, partai yang selama ini dianggap sebagai representasi politik NU, tak banyak dipilih oleh kaum Nahdliyin. 

Peneliti Senior Alvara Research Center Lilik Purwandi menjelaskan, pihaknya mengetahui pilihan politik warga NU dengan lebih dulu menanyakan kepada semua responden apakah merasa dekat/terafiliasi dengan ormas NU. Hasilnya, 40,7 persen dari total responden mengaku terafiliasi dengan NU. 

Responden yang warga NU itu lantas diberikan pilihan tertutup tiga pasangan capres-cawapres. Hasilnya, 36,7 persen warga NU memilih pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Lalu, 33,2 persen kaum Nahdliyyin memilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Adapun warga NU yang memilih pasangan Anies-Imin (Amin) hanya 13,8 persen. Selain itu, ada 13,8 persen yang belum menentukan pilihan.

Sementara itu, di survei LSI Denny JA pada 4-12 September 2023 menunjukkan bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Gibran unggul di antara pemilih NU dengan persentase 44,6 persen, disusul Ganjar-Mahfud sebesar 36,5 persen. Sedangkan Anies-Muhaimin yang cawapresnya adalah Ketua Umum PKB sekaligus keluarga besar NU justru berada di posisi ketiga dengan 15 persen.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement