Jumat 20 Oct 2023 15:45 WIB

Perang Israel Palestina Munculkan Risiko Pasokan Energi dan Naikkan Harga Minyak

Harga minyak bisa terdampak perang Palestina Israel.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Seorang tentara Israel berjalan di samping kendaraan lapis baja yang duduk di daerah sepanjang perbatasan dengan Gaza, Israel selatan, 14 Oktober 2023. Lebih dari 1.300 warga Israel tewas dan lebih dari 3.200 lainnya terluka, menurut IDF, setelah gerakan Islam Hamas melancarkan serangan. serangan terhadap Israel dari Jalur Gaza pada 07 Oktober. Lebih dari 1.500 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 6.600 lainnya terluka di Gaza sejak Israel melancarkan serangan udara balasan, kata pejabat kesehatan Palestina.
Foto: EPA-EFE/MARTIN DIVISEK
Seorang tentara Israel berjalan di samping kendaraan lapis baja yang duduk di daerah sepanjang perbatasan dengan Gaza, Israel selatan, 14 Oktober 2023. Lebih dari 1.300 warga Israel tewas dan lebih dari 3.200 lainnya terluka, menurut IDF, setelah gerakan Islam Hamas melancarkan serangan. serangan terhadap Israel dari Jalur Gaza pada 07 Oktober. Lebih dari 1.500 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 6.600 lainnya terluka di Gaza sejak Israel melancarkan serangan udara balasan, kata pejabat kesehatan Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Editor Guardian Economics, Larry Elliott, mengulas dampak konflik Israel dan Palestina terhadap harga energi. Ulasan ini disampaikan dalam tulisan artikelnya berjudul "How will the Israel-Hamas war affect oil prices and the global economy?"

Dia menyebutkan, perang Israel dan Palestina akan menimbulkan risiko global yang besar dengan mengganggu pasokan energi dan menaikkan harga minyak.

Baca Juga

"Salah satu aturan umum geopolitik adalah bahwa resesi dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak, dan harga minyak mentah sensitif terhadap peristiwa di Timur Tengah," tulisnya, dilansir Middle East Monitor, Jumat (20/10/2023).

Karena itu, Elliott membagikan tiga skenario utama. Pertama, adalah perang tersebut dibatasi oleh serangan darat Israel di Jalur Gaza. Dalam keadaan seperti ini, harga minyak akan stabil pada level saat ini yaitu 93 dolar AS per barel dan akan segera mulai turun kembali.

 

Skenario kedua melibatkan konflik regional yang lebih luas, dimulai dengan pertempuran di perbatasan utara Israel dengan pasukan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Namun pada akhirnya menyeret Iran ke dalam konflik tersebut.

Kedatangan kelompok kapal induk AS di Mediterania timur menunjukkan bahwa Washington sedang mengambil tindakan darurat untuk mengatasi hal ini.

Artikel yang ditulis Elliott juga mengungkapkan soal Nicholas Farr, seorang ekonom di firma riset Capital Economics, yang memberikan pandangan soal Hizbullah. Disebutkan, Hizbullah yang didukung Iran telah melakukan baku tembak rudal dengan Israel dari Lebanon.

"Yang berpotensi membuka front baru dalam konflik. Jika Iran terlibat dalam perang, hal ini akan menimbulkan risiko global yang besar dengan mengganggu pasokan energi dan menaikkan harga minyak. Harga gas alam juga dapat terpengaruh jika ada gangguan terhadap ekspor LNG (gas alam cair)," tuturnya.

Skenario ketiga adalah skenario yang digambarkan oleh sejarawan Niall Ferguson, di mana Tiongkok memanfaatkan krisis ini untuk menerapkan blokade terhadap Taiwan dan, dengan melakukan hal tersebut. Sehingga meningkatkan konflik regional di Timur Tengah menjadi perang dunia ketiga.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement