Senin 16 Oct 2023 19:53 WIB

PDAM Kota Semarang Gelar Sholat Istisqa Ikhtiar Turunkan Hujan

Musim kemarau saat ini berdampak terhadap penurunan sumber air baku dari air tanah.

Sejumlah warga RT 03/RW 04 Dusun Kebontaman, Desa kalikayen, Kabupaten Semarang, menyiapkan berbagai wadah untuk menampung bantuan air bersih di lingkungannya, Jumat (11/8). Sejak beberapa bulan terakhir warga dusun ini telah megalami krisis air bersaih akibat dampak musim kemarau kali ini.
Foto: Republika/Bowo Pribadi
Sejumlah warga RT 03/RW 04 Dusun Kebontaman, Desa kalikayen, Kabupaten Semarang, menyiapkan berbagai wadah untuk menampung bantuan air bersih di lingkungannya, Jumat (11/8). Sejak beberapa bulan terakhir warga dusun ini telah megalami krisis air bersaih akibat dampak musim kemarau kali ini.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang Jawa Tengah menggelar sholat Istisqa sebagai ikhtiar memohon kepada Allah SWT untuk menurunkan hujan, Senin (16/10/2023).

Sholat Istisqa itu dilaksanakan di halaman Kantor PDAM Kota Semarang diikuti segenap karyawan dan pimpinan badan usaha milik daerah tersebut. Direktur Umum PDAM Kota Semarang Farhan Hilmie mengatakan sholat Istisqa itu merupakan ikhtiar (usaha) dari PDAM Semarang agar segera diturunkan hujan sehingga bisa mengakhiri musim panas yang berkepanjangan.

Baca Juga

Menurut Farhan, musim kemarau saat ini berdampak terhadap penurunan sumber air baku yang berasal dari mata air atau air tanah, yakni sekitar 20-25 persen, namun tidak memengaruhi produksi air bersih.

Apalagi, sumber air baku PDAM yang berasal dari air permukaan, seperti embung dan waduk sejauh ini masih stabil dan tidak mengalami penurunan meski terjadi kemarau panjang. "Saat ini, produksi air bersih PDAM masih sekitar 3.500 liter per detik di seluruh instalasi pengolahan air (IPA) milik PDAM," katanya.

Bahkan, Farhan memastikan ketersediaan air baku di Ibu Kota Jawa Tengah diperkirakan bisa tercukupi hingga Desember mendatang. Sumber air di IPA Kudu memang harus berbagi dengan daerah lainnya, seperti Demak dan Grobogan, mengingat sumber air bakunya berasal dari Bendung Klambu, Grobogan, Jawa Tengah.

"Sebelum sampai ke IPA Kudu, air melewati saluran terbuka yang juga mengairi sawah-sawah di sepanjang perjalanan. Kami tidak mungkin menutup. Nah, perjalanan air dari Klambu ke Kudu itu 42 jam," katanya.

Namun, ia memastikan PDAM Semarang membentuk tim sweeping (membersihkan) untuk mengawal perjalanan air dari Bendung Klambu ke IPA Kudu. Selain pada tahun ini, kemarau panjang juga pernah terjadi pada 2017. Ketika itu musim kemarau terjadi jauh lebih panjang. PDAM Kota Semarang juga menggelar shalat Istisqa.

"Pada 2017 pernah juga (kemarau) seperti ini. Kami juga menggelar shalat Istisqa. Menurut saya saat itu jauh lebih ekstrim karena kemarau sampai Desember. Cuma, memang suhu udaranya tidak sepanas kali ini," kata Farhan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement