Senin 11 Sep 2023 17:06 WIB

Orang Tergelincir dan Renungan Ibnu Al-Jauzi, Mengapa Sering Jatuh di Lubang yang Sama?

Ibnu al-Jauzi menyebutkan pentingnya berhati-hati di dunia

Ilustrasi berdoa. Ibnu al-Jauzi menyebutkan pentingnya berhati-hati di dunia
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi berdoa. Ibnu al-Jauzi menyebutkan pentingnya berhati-hati di dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Aduhai, betapa malangnya hati-hati yang terlena dan tertipu, padahal di akhirat kelak, seluruh amalan anak Adam yang tertulis di atas kertas amal-amalnya akan ditimbang dengan timbangan yang seadil-adilnya.  Renungkan firman Allah SWT: 

 فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ‘’Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, pasti dia tidak akan sesat dan tidak akan pula merana.’ (QS Thaha: 153) 

Baca Juga

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan petunjuk Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan demikian, sampailah pada sebuah hakikat kebenaran bahwa siapapun yang mengikuti Alquran dan sunnah serta mengamalkannya, dia pasti akan selamat dari kesesatan.  

Imam Ibnu Al-Jauziy menuliskan tentang perhatiannya terhadap orang-orang yang tergelincir di jalan disebabkan oleh sesuatu atau terjatuh di saat hujan. Ternyata, mereka selalu menoleh ke tempat ia terjatuh dan setidaknya bertanya-tanya mengapa ia sampai terjatuh? Yang demikian itu adalah tabiat manusia secara umum. Mungkin mereka berharap agar tidak terjatuh lagi ketika akan melewati tempat itu. 

 

Dari peristiwa tersebut, ia mengambil suatu pelajaran dan isyarat. Ia berpikir, betapa malangnya orang-orang yang tergelincir disebabkan kesalahannya berkali-kali. Tidakkah mereka melihat apa yang menyebabkan mereka tergelincir berkali-kali dan mestinya hal itu membuat mereka lebih berhati-hati untuk tidak melakukannya kembali? 

Tidakkah mereka menyalahkan diri mereka ketika masih saja melakukan kesalahan serupa? Banyak orang bertanya kepada orang lain,"Mengapa mereka terus saja tergelincir seperti aku, padahal mereka juga berhati-hati seperti halnya aku ini?" Yang menjadi keanehan adalah, mengapa mereka terpeleset ke dalam dosa, apakah mata batinnya tidak berfungsi? Tidakkah mereka melihat akibat dan dampak dari segala sesuatu dengan akal pikiran? 

Baca juga: 15 Pengakuan Orientalis Non-Muslim Ini Tegaskan Alquran Murni tak Ada Kesalahan

Bagaimana mungkin mereka mengutamakan yang fana dari pada yang kekal? Mengapa mereka menjual keabadian itu dengan harga yang sangat murah? Bagaimana mungkin Anda memilih kenikmatan tidur daripada maslahat bergaul dengan orang lain? Ah, benarbenar telah mereka yang lalai telah membeli satu penyesalan yang tidak akan sanggup mereka pikul. 

Kepala-kepala yang tertunduk kemarin sulit untuk bisa berangkat saat ini serta deras air mata penyesalan yang tak lagi berguna. Yang paling jelek dari semua itu adalah jika dikatakan,"Mengapa Anda menjadi begini? Apakah yang mereka lakukan selama ini? Kenapa Anda melakukan ini?"  

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement