Senin 24 Jul 2023 15:12 WIB

Beredar Data Dugaan Kekerasan Libatkan Oknum Mahasiswa RI di Mesir

Korban kekerasan oknum mahasiswa RI di Mesir angkat suara.

Rep: Muhyiddin, Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
Korban kekerasan oknum mahasiswa RI di Mesir angkat suara. Foto: Masjid Al Azhar di Kairo, Mesir.
Foto:

4. Kasus Keempat

Penyerbuan Sekretariat Jawa Tengah dan DIY

Data tersebut menyebutkan, pada Rabu (12/7/2023) pukul 23.00 waktu Kairo, saksi mendengar kabar ada segerombolan mahasiswa asal Sulawesi berkumpul di sekitar Rumah Sakit Husein Darrasah. Dewan Keamanan dan Ketertiban Mahasiswa (DKKM) pun mengimbau untuk bersiap, karena rombongan tersebut mencari beberapa anggota Kelompok Studi Walisongo (KSW) yang dinilai melakukan provokasi terhadap lembaga mereka.

Sekitar pukul 01.00 dini hari, rombongan telah sampai di sekretariat KSW dengan membagi titik kumpul. Beberapa kelompok berkumpul di depan sekretariat, sebagian yang lain tersebar di beberapa titik seberang KSW.

Memasuki pukul 01.30, tiga perwakilan dari mereka masuk ke Sekretariat KSW dengan dalih ingin berunding perihal provokasi yang dilakukan anggota KSW. “Kami sambut niat baik yang mereka utarakan dengan tidak melakukan tindakan perlindungan terhadap Sekretariat KSW, walaupun kami mengetahui berpuluh-puluh orang telah bersiap masuk menerobos KSW,” kata saksi.

Pembicaraan kedua belah pihak berjalan damai hanya sampai ketika beberapa orang di luar memaksa masuk dengan alasan perundingan terlalu lama, Mereka juga mengecam dengan serbuan orang-orang di luar ke dalam Sekretariat KSW, jika pihak KSW tidak melakukan tindakan dengan cepat. Pembicaraan terus berlanjut, tentunya dengan tensi berbeda dari sebelumnya.

Belum sampai pada hasil yang diinginkan, di sela-sela pembicaraan mereka tersinggung dengan anggota KSW yang sedikit menaikkan nada bicaranya, lagi-lagi dengan dalih terpancing provokasi, mereka melakukan tindakan anarki di dalam Sekretariat KSW. Laki-laki kurus, berkulit sawo matang, dan berjaket hoodie biru lari dari pintu masuk sekretariat lalu menendang ke dalam kerumunan anak-anak KSW secara membabi buta. Beberapa anak dari KSW terpojok ditambah lemparan gelas kaca yang datang dari arah pintu masuk.

“Seperti uang koin satu sen, bermuka dua dan nilainya rendah. Niat di muka ingin berunding, muka lain hanya ingin melakukan perbuatan anarki,” jelas saksi.

Keadaan semakin runyam dengan adanya perlawanan dari pihak KSW, gelas-gelas kopi suguhan dipecahkan di depan penyuguh kopi, ditambah kerumunan anak-anak KKS yang memaksa masuk ke dalam ruangan yang sudah sesak dengan kerumunan mereka sendiri.

“Barang-barang elektronik di dalam ruangan diinjak-injak. Karpet tempat sholat, duduknya orang sholawat dengan bengisnya diinjak dengan alas kaki tanpa tahu dari mana sebelumnya,” kata saksi

Beberapa orang dari pihak KKS mulai terlihat mencoba melerai temannya, dan anak-anak KSW yang terluka langsung dibawa ke Aula Griya Jawa Tengah. Keadaan sempat mereda, sampai akhirnya memanas kembali dengan teriakan dari salah satu anggota KKS,

“Alex!, Alex!, Alex!, sini, kau!”. Kemudian salah satu dari mereka muncul di tengah kerumunan dan memukul ketua serta wakil ketua KSW. Kericuhan akhirnya tidak terelakan kembali. “Salah satu teman kami kemudian berinisiatif memanggil polisi untuk membubarkan kerumunan, selang beberapa waktu polisi pun datang dan kami yakin bahwa mereka akan keluar dari Sekretariat KSW dan pulang ke tempat masing-masing,” kata saksi.

Serpihan gelas kaca mulai dibersihkan setelah mereka meninggalkan ruangan sekreteriat, karpet juga dibersihkan dengan vacum. Keadaan mulai damai sampai kemudian ada salah satu anak KKS yang masuk dan meminta kepada Ketua KSW untuk berdiskusi.

“Lalu terdengar kabar bahwa rombongan anak KKS belum pulang dan masih berkumpul di tempat asob seberang KSW. Entah apa yang ingin ia diskusikan kepada Ketua KSW, toh yo raono hasile. Adzan Subuh mulai terdengar dan keaadan kembali normal,” jelas saksi.

5. Kasus Kelima

Korban: Ahmad Ghifari dari Keluarga Masyarakat Jawa Timur (Gamajatim)

Data tersebut menyebutkan, kajadian terjadi pada waktu bersamaan dengan kasus ketiga. Aksi kekerasan terhadpa Ghifari ini berawal dari rumah korban yang diketuk dengan keras sampai ditendang, sehingga korban merasa terganggu lalu membukakan pintu.

Ketika dibuka, kata ghifari, sudah berkumpul puluhan orang di depan pintu dan memaksa untuk masuk. Satu per satu orang masuk tanpa melepas alas kaki. Negosiasi damai sempat dilakukan oleh salah satu kakak tingkatnya, namun berakhir gagal.

Ghifari yang berada di kamar sebelah segera melakukan antisipasi dengan mengabari temannya yang sekiranya bisa membantu dengan segera. Ketika Ghifari ingin melihat siapa gerombolan itu, Ghifari diteriaki dan dipaksa untuk memperlihatkan isi chat-nya bersama temannya.

"Awas ya, jangan sampai kamu lapor-lapor. Ini nomor siapa ini?,” kata pelaku.

Ghifari kemudian menjawab dengan berteriak juga, "Ini teman saya, bukan siapa-siapa. Kamu gak kenal juga, kan? Aku juga gak kenal kamu siapa?!.”

Saat itu salah satu dari mereka melayangkan pukulannya dan menimpa pipi kanan Ghifari. Korban pun kaget dan spontan berteriak untuk membalas perbuatan tidak sopan tamu tersebut sambil berharap ada orang Mesir ataupun tetangganya yang mendengar dan memanggil bantuan.

Namun, usaha itu sia-sia. Kerah baju Ghifari ditarik dan dilayangkan pukulan kembali di tempat yang sama. Semakin keras Ghifari berteriak, semakin banyak orang ingin membungkamnya. Beruntung kakak tingkatnya segera menenangkan mereka dan membuat mereka melepaskan tangannya dari baju Ghifari.

“Walau saat itu, handphone saya diambil dan terpaksa tidak bisa melanjutkan chat dengan teman yang ingin saya mintai bantuan,” jelas Ghifari.

Lalu, Ghifari dibiarkan di kamar sendirian, kamar ditutup, dan disuruh membukakan kunci atau sandi HP-nya. Korban dibiarkan di kamar itu sampai mereka pulang. “Mereka pulang setelah menghajar habis-habisan teman rumah saya. Mereka pamit seakan mereka benar-benar bertamu dan tidak melakukan hal kejam,” kata Ghifari.

Data tersebut juga menyebutkan,  masih ada kasus anarki yang diduga dilakukan oleh oknum Kekeluargaan Sulawesi, masih ada beberapa kasus yang tidak bisa disebutkan secara detail dan rinci. Berikut bentuk kasus dan penyebabnya secara sekilas:

1. Kasus kekerasan terhadap Imam Maulana (Kekeluargaan Jawa Barat) di asrama pelajar pada 2020 karena permasalahan ember. Korban mengalami patah hidung

2. Kasus kekerasan terhadap Rifqi di Darosah (Kekeluargaan Jawa Barat) pada 2021 karena pemasalahan bagasi. Korban babak belur dikeroyok.

3. Kasus kekerasan terhadap Malik di Darosah (Kekeluargaan Jawa Barat) pada 2021 karena permasalahan pembelian bantal. Korban dikeroyok.

4. Kasus kekerasan terhadap Hasbi di kampus (Kekeluargaan Jawa Barat) pada 2021. Korban dipukul karena tidak sengaja menginjak salah satu dari anak kekeluargaan Sulawesi.

5. Kekerasan terhadap lzam (Kekeluargaan Jawa Timur). Korban mendapatkan ancaman dari pihak KKS ketika acara Nusantara Olympic dan mendapatkan pukulan dari sterring comitte yang berasal dari KKS, serta mendapatkan ancaman dari Fiqrul untuk mengganti motto Nusantara Olympic.

6. Kekerasan terhadap Zarkasyi (Kekeluargaan Madura) pada 11 Juli 2023. Korban diteror di Asyir, karena termasuk orang yang ikut melerai saat terjadi penyerangan di sekretariat Jawa Tengah.  

7. Kekerasan terhadap Magribi (Kekeluargaan Jawa Tengah). Pengeroyokan terjadi di lapangan ketika pertandingan, akibat dinilai melakukan provokasi terhadap supporter kekeluargaan Sulawesi.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement