Sabtu 24 Jun 2023 17:21 WIB

Perbedaan Idul Adha 2023, Ketum Muhammadiyah: Tidak Perlu Dipertentangkan

Haedar pun mengimbau masyarakat tetap saling toleransi.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ani Nursalikah
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan amanat saat soft launching Suara Muhammadiyah (SM) Tower and Convention di Yogyakarta, Sabtu (24/6/2023). SM Tower and Convention menjadi tambahan lini baru amal usaha Muhammadiyah dibawah naungan Suara Muhammadiyah. Bangunan dengan tinggi delapan lantai ini menjadi pilar dakwah di bidang ekonomi dan pariwisata di jantung Kota Yogyakarta. Tempat ini juga menjadi hotel pertama yang dibangun oleh Muhammadiyah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan amanat saat soft launching Suara Muhammadiyah (SM) Tower and Convention di Yogyakarta, Sabtu (24/6/2023). SM Tower and Convention menjadi tambahan lini baru amal usaha Muhammadiyah dibawah naungan Suara Muhammadiyah. Bangunan dengan tinggi delapan lantai ini menjadi pilar dakwah di bidang ekonomi dan pariwisata di jantung Kota Yogyakarta. Tempat ini juga menjadi hotel pertama yang dibangun oleh Muhammadiyah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1444 H di Indonesia akan dilakukan dua hari. Pemerintah sudah menetapkan Idul Adha 2023 pada Kamis (29/6/2023).

Sedangkan Muhammadiyah menetapkan pada Rabu (28/6/2023). Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan perbedaan tersebut tidak perlu menjadi masalah. Sebab, kata Haedar, pemerintah sendiri juga telah memberi kelonggaran hari libur dan cuti bersama Idul Adha selama tiga hari.

Baca Juga

“Kebijakan presiden itu juga memberi makna bahwa perbedaan justru mewadahi dan diapresiasi oleh negara, sehingga tidak perlu lagi mempertentangkan (Hari Raya Idul Adha) 28 dan 29 (Juni), apalagi sampai jadi masalah,” kata Haedar di SM Tower and Convention, Kota Yogyakarta, Sabtu (24/6/2023).

Bahkan, kata Haedar, pemerintah juga memperbolehkan untuk digunakannya fasilitas-fasilitas publik dalam pelaksanaan ibadah sholat Id nantinya. “Karena bukan hanya Muhammadiyah yang (melaksanakan sholat Id) tanggal 28 (Juni), tapi banyak komponen umat Islam yang lain dan kebetulan bersamaan dengan wukuf di Saudi,” ucap Haedar.  

 

Haedar pun mengimbau masyarakat tetap saling toleransi meski melaksanakan ibadah Hari Raya Idul Adha di hari yang berbeda. Haedar juga mengimbau bagi masyarakat yang akan menyembelih hewan qurban di hari yang berbeda juga saling mengedepankan toleransi.

“Yang memang komunitasnya disitu banyak tanggal 28 (Juni) mau menyembelih, sembelihlah dengan baik, tidak masalah. Bagi yang besoknya kemudian juga kita hormati, bisa juga menyembelih di hari besoknya lagi sampai ke tasyrik. Saya pikir itu cara yang toleran, bisa menyembelih di tanggal 29 (Juni) sampai kepada tanggal 1 (Juli),” ujarnya.

Terkait hari libur Idul Adha dan cuti bersama yang mencapai tiga hari, Haedar pun mengapresiasi keputusan pemerintah tersebut. Dengan waktu yang cukup, masyarakat bisa menikmati momen Idul Adha lebih lama bersama keluarga, dan hal ini juga berdampak kepada sektor wisata.

“Pak Presiden Joko Widodo telah mengumumkan hari libur tiga hari dalam konteks Idul Adha, 28-30 (Juni) yang juga memang dijelaskan punya kaitannya agar lekat dengan keluarga, dan ada kegiatan wisata ekonomi,” kata Haedar. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement