Senin 17 Apr 2023 18:35 WIB

Haedar Nashir: Perbedaan Idul Fitri Lumrah, Karena Soal Ijtihad

Haedar Nashir menjelaskan perbedaan Idul Fitri merupakan kearifan berislam.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.
Foto: dokpri
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perbedaan idul fitri bukan masalah. Ini adalah hal lumrah karena dibangun berdasarkan ijtihad masing-masig pihak. Ada yang berijtihad Idul Fitri jatuh pada tanggal 21. Kemudian ada pula yang berijtihad Idul Fitri jatuh pada tanggal 22 April 2022. Semuanya sama-sama benar karena dibangun dengan ijtihad yang otoritatif.

“Lebaran Idul fitri boleh berbeda, tetapi kita bisa bersama merayakan dan melaksanakannya. Kalau besok ada perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena ini soal ijtihad, sampai nanti kita bersepakat ada kalender Islam global," kata Haedar di UMS Jawa Tengah, Ahad (16/4/2023)

Baca Juga

Guru Besar Sosiologi ini menyatakan, penggunaan satu lokasi untuk Salat Ied yang berbeda hari tidak membatalkan salah satu diantara keduanya.

Bahkan, lanjut Haedar, lokasi tersebut mendapat keberkahan dua kali lipat karena digunakan untuk Salat Ied dua kali.

 

“Kalau misalkan tidak memberi fasilitas yang selama ini digunakan menjadi milik negara untuk yang berbeda seperti besok Muhammadiyah lebaran 21 (April 2023), tidak perlu bikin larangan. Syukur lebih kalau silahkan gunakan, hari ini digunakan Muhammadiyah, besok digunakan tanggal 22," paparnya.

Terkait dengan permintaan Muhammadiyah di salah satu daerah untuk izin penggunaan fasilitas negara sebagai tempat Salat Ied, Haedar mengatakan itu bukan karena Muhammadiyah tidak memiliki fasilitas sendiri, tapi Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa fasilitas negara adalah milik seluruh golongan dan rakyat.

“Biasanya kita juga punya fasilitas-fasilitas, tapi bukan itu. Kami bisa menyelenggarakan di tempat kami. Tapi yang kami inginkan adalah negara, pemerintah dengan segala fasilitasnya itu milik seluruh golongan dan rakyat," tegas Haedar.

Terkait pandangannya itu, Muhammadiyah sama sekali tidak menuntut lebih. Mengutip perkataan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno dalam Pidato 1 Juni, Haedar menyebut bahwa Indonesia bukan milik satu orang, satu golongan, hanya golongan bangsawan saja, tapi Indonesia milik semua untuk semua.

“Lebih dari itu, mari kita bangun bangsa ini menjadi lebih maju. Kalau persoalan-persoalan tadi itu kan persoalan rumah tangga kita berbangsa dan bernegara, ada dinamikanya tidak perlu didramatisasi," ungkapnya.

“Tapi yang tidak kalah penting adalah, bisakah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan alamnya yang kaya raya. Ke depan kita manajemen dengan baik sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa dalam spirit berkemajuan,” pungkasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement