Ahad 16 Apr 2023 18:21 WIB

Elektabilitas ke Ganjar Kembali Menguat, Pengamat: Memori Pemilih Kita Pendek

Menurut Adi, pemilih di Indonesia cepat marah cepat pula memaafkan.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Andri Saubani
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Elektabilitas Ganjar sempat merosot seusai polemik penolakan timnas Israel di Piala Dunia U-20. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Elektabilitas Ganjar sempat merosot seusai polemik penolakan timnas Israel di Piala Dunia U-20. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menyampaikan beberapa alasan kembali menguatnya dukungan publik kepada Ganjar Pranowo sebagai calon presiden. Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memperlihatkan, Ganjar kini menempati urutan pertama, berbeda tipis dengan Prabowo Subianto dengan selisih 0,2 persen saja.

Pertama, kata Adi, ingatan atau memori pemilih Indonesia sangat pendek. Ganjar sebelumnya mendapat sentimen negatif dari warganet (netizen) di sosial media usai Indonesia dicoret FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia U20.

Baca Juga

"Pemilih kita itu kan memorinya pendek, cepet marah tapi cepat pula memaafkan. Cepat pula untuk memilih orang yang sempat dibenci itu," ujar Adi kepada Republika, Ahad (16/4/2023).

Adi mengatakan, banyak kasus banyak kejadian di negara ini menunjukan hal tersebut. Menurutnya, sejumlah partai maupun elitnya dibenci tetapi kemudian dipilih kembali.

"Elite ataupun calon itu dibenci, di-bully ya tapi sifatnya sesaat setelah itu publik lupa dan kembali dipilih ya, ini memori masyarakat aja yang pendek memang," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.

Kedua, kata Adi, menguatnya dukungan publik ke Ganjar juga tidak terlepas dari hubungannya dengan Presiden Joko Widodo yang ditampilkan ke publik. Sikap Ganjar yang menolak keikutsertaan Timnas Israel di Piala Dunia kemarin dikaitkan retaknya hubungan dengan Jokowi.

"Tentu tidak terlepas dari hubungan mesra yang sepertinya ditampilkan Jokowi dan Ganjar yang dulu sempat dinilai retak dan berhadap-hadapan ya," ujar Adi.

"Kemesraan Jokowi dan Ganjar tentu menjadi variabel yang cukup penting terutama bagi pendukung Jokowi melihat Ganjar sebagai sosok yang kembali mesra dengan Jokowi yang dan tidak ada persoalan apapun yang signifikan," tambahnya.

Menurutnya, kembali baiknya hubungan ini pun membuat basis loyalis pemilih Jokowi itu kembali berbondong-bondong mendukung Gubernur Jawa Tengah tersebut. Ketiga, lanjut Adi, menguatnya dukungan kepada Ganjar, bisa jadi karena sikap Ganjar yang secara terbuka menerima konsekuensi dari pernyataan politiknya itu. Saat memberikan pernyatan di podcast bersama Najwa Shihab, Ganjar secara terbuka mengakui dampak dari pernyataannya tersebut.

"Ganjar bahkan sempat ngomong di podcast tertentu merasa bertanggung jawab dan siap dengan konsekuensi apapun dengan yang dia pilih, artinya keberanian menghadapi persoalan yang blunder adalah bagian dari nilai positif yang dimiliki oleh Ganjar," ujar Adi.

Dia menilai, kegaduhan yang muncul dari pernyataan kader PDIP tersebut serta berdampak pada perundungan kepadanya bisa disikapi bijak oleh Ganjar.

"Jadi sebenarnya kegaduhan bully-bully itu enggak selamanya negatif, kalau bisa dijelaskan ke publik dengan baik dihadapi dengan baik jadi secara perlahan masyarakat juga akan simpati lah," ujarnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement