Sabtu 11 Mar 2023 15:47 WIB

Apakah Kekayaan Melimpah adalah Jaminan Manusia Bisa Bahagia?

Manusi mengira kekayaan akan memberikan kebahagiaan di dunia

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi kekayaan. Manusi mengira kekayaan akan memberikan kebahagiaan di dunia
Foto: www.freepik.com
Ilustrasi kekayaan. Manusi mengira kekayaan akan memberikan kebahagiaan di dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi (1878-1960) mengungkapkan sejumlah pertanyaan kepada jiwa jahat yang menebarkan kekufuran dan jiwa yang memerintah manusia. Di antaranya, apakah manusia bisa bahagia hanya dengan kekayaan melimpah?

Nursi mengatakan, apakah menurutmu manusia bisa bahagia karena sekadar mempunyai harta kekayaan melimpah yang dia pakai sebagai hiasan lahiriah yang menipu, padahal jiwa, perasaan, akal, dan kalbunya sedang terserang oleh berbagai musibah? Apakah kita bisa menyebutnya sebagai orang yang bahagia?

Baca Juga

Apakah engkau tidak melihat bahwa karena keputusasaan seseorang akibat perintah parsial, tidak adanya harapan akibat angan-angan yang palsu dan kekecewaan orang akibat sebuah urusan yang tidak penting, maka khayalan-khayalan manis menjadi pahit baginya, kondisi-kondisi baik menganiayanya, dan dunia terasa sempit baginya seperti penjara.

Kebahagiaan macam apa yang kau jaminkan bagi orang malang yang relung-relung kalbu dan fondasi jiwanya ditimpa tamparan kesesatan, sehingga semua harapannya menjadi hilang, berubah menjadi penderitaan akibat kesialanmu? 

Orang yang jiwa dan kalbunya tersiksa di neraka, sementara hanya fisiknya yang berada di surga yang dusta dan fana ini, apakah ia bisa dikatakan bahagia?

Berbagai pertanyaan tersebut Nursi ungkapkan dalam bukunya yang bejudul Al-Lama'at terbitan Risalah Nur Press. “Demikianlah engkau (jiwa jahat) menyesatkan manusia yang tak berdaya seperti ini. Engkau membuat mereka mengecap siksa neraka dalam kenikmatan surga yang penuh dusta,” kata Nursi.

Dia pun memberikan contoh agar jiwa-jiwa itu memahami ke mana sebenarnya dia mengajak umat manusia. Misalnya, di hadapan kita ada dua jalan. 

Kita meniti salah satunya. Pada setiap langkah di jalan tersebut kita menyaksikan orang-orang malang yang lemah sedang diserang oleh kaum zalim.

Kaum lalim itu kemudian merampas harta dan kekayaan mereka, serta menghancurkan rumah-rumah dan gubuk-gubuk mereka. Bahkan, kaum tersebut melukai mereka secara kejam sehingga langit pun nyaris menangisi kondisi mereka yang menyedihkan.

Baca juga: Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar?

Sejauh mata memandang, kondisi inilah yang tampak. Yang terdengar di jalan ini hanyalah kegaduhan dan keributan kaum zalim, serta rintihan orang-orang yang teraniaya. Seolah-olah upacara duka sedang menyelimuti jalan tersebut.

Sesuai dengan naluri kemanusiaannya yang ikut merasa sakit dengan penderitaan yang dialami orang lain, menurut Nursi, manusia tidak akan tahan dengan siksaan luar biasa yang dilihatnya di jalan itu.

Karena itu, orang yang meniti jalan tersebut pastilah melakukan salah satu dari dua hal, yaitu entah dia melepaskan naluri kemanusiaannya lalu membawa kalbu yang kesat dan sangat kasar sehingga tidak merasa pilu dengan hancurnya masyarakat selama ia sendiri bisa aman dan selamat. Atau, ia menanggalkan apa yang menjadi tuntutan kalbu dan akal.    

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement