Jumat 10 Mar 2023 21:34 WIB

Kekerasan di Lingkungan Pendidikan jadi Perhatian Serius untuk Diselesaikan

Kemendikbus sebut kekerasan di lingkungan pendidikan jadi perhatian serius.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Bilal Ramadhan
Deklarasi menolak perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi di lingkungan sekolah. Kemendikbus sebut kekerasan di lingkungan pendidikan jadi perhatian serius.
Foto: Istimewa
Deklarasi menolak perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi di lingkungan sekolah. Kemendikbus sebut kekerasan di lingkungan pendidikan jadi perhatian serius.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengaku turut menaruh perhatian khusus terhadap kasus-kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Berdasarkan data terakhir yang Kemendikbudristek miliki, ada sekitar 24 persen satuan pendidikan yang rawan mengalami kekerasan di lingkungan pendidikan.

"Ada 24 persen yang rawan mengalami bullying, mengalami kekerasan di lingkungan pendidikan. Ini belum banyak berubah. Memang secara angka, persentase, mungkin minoritas. Tapi, 24 persen dari 300 ribu satuan pendidikan itu banyak sekali. Jadi ini luar biasa genting," ujar Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, Jumat (10/3/2023).

Baca Juga

Pria yang kerap disapa Nino itu menyampaikan, karena menaruh perhatian lebih terkait kekerasan di lingkungan pendidikan, maka Kemendikbudristek menjadikan hal tersebut sebagai salah satu tolak ukur atau indikator utama penilaian dalam asesmen nasional (AN) dan penilaian lainnya. Hal itu juga menjadi bagian dalam penilaian mereka terhadap standar pelayanan minimal (SPM) pemerintah daerah.

"Kalau kita tidak merasa ini urgent, kita tidak menjadikan ini indikator utama dalam AN, di rapor pendidikan, cara kita menilai pemerintah daerah. Kita sangat sepakat ini urgent. Karena itu kita ukur, kita petakan, dan kita beri intervensi untuk satuan pendidikan yang paling parah mengalaminya," kata Nino.

Nino menerangkan, Kemendikbudristek bekerja sama dengan UNICEF punya program pencegahan perundungan berbasis sekolah atau dikenal dengan nama Roots. Lewat program tersebut, pihaknya berupaya melakukan pendekatan secara menyeluruh terhadap satuan-satuan pendikan yang paling parah kasus perundungan dan intoleransinya. Hingga tahun lalu, program tersebut memberikan pelatihan kepada sekitar 2-3 ribu sekolah.

"Jadi whole school aproach, kita melakukan pelatihan kepada sekian ribu, 2 ribu atau 3 ribu satuan pendidikan yang paling parah bullying dan intoleransinya tahun lalu. Tahun ini moga-moga bisa kita perluas," jelas dia.

Nino menyampaikan, di balik semua itu terdapat kabar baik berupa guru-guru dan kepala sekolah saat ini menjadi lebih paham tentang apa itu perundungan dan kekerasan seksual. Menurut dia, mereka menjadi lebih paham kedua hal tersebut menjadi masalah yang perlu diperhatikan serius. Tapi, Nino mengatakan, untuk mengatasi masalah itu memang perlu waktu.

"Solusinya itu harus whole school aproach. Banyak anak yang menjadi nakal itu karena memang mereka punya problem sendiri. Salah satunya adalah self esteem yang rendah. Nah yang harus dilakukan secara sistemik adalah memberi tempat kepada anak dengan semua ragam kemampuan dan bakat," jelas Nino.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement