Selasa 07 Feb 2023 16:00 WIB

Berkah Resepsi Puncak Satu Abad NU Bagi Pedagang

Warga NU sendiri sangat antusias ikuti acara Satu Abad NU.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Seorang pedagang asal Klaten, Nur Cholis (40 tahun) berjualan dalam acara Resepsi Puncak Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) sedang berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023).
Foto: Republika/Muhyiddin
Seorang pedagang asal Klaten, Nur Cholis (40 tahun) berjualan dalam acara Resepsi Puncak Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) sedang berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Resepsi Puncak Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) sedang berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023). Acara akbar ini disemarakkan dengan berbagai kegiatan selama 24 jam nonstop, mulai dari kegiatan keagamaan, karnaval, hingga konser musik. 

Peringatan usia 100 tahun NU ini pun membawa berkah bagi para pedagang yang berjualan di dalam stadion maupun di luar stadion. Pasalnya, warga Nahdliyin sangat antusias untuk menghadiri Resepsi Puncak Satu Abad ini. 

Baca Juga

Seorang pedagang souvenir asal Kediri, Komaruddin (40 tahun) bahkan mengaku tidak hanya dapat berkah secara ekonomi, tapi juga merasa senang hadir dalam momentum bersejarah ini.

"Berkahnya itu dalam semua sisi, senang. Kalau ikut di sini itu rasanya adem, terus materi juga dapat, bagi yang jualan kayak saya. Jadi dapat keberkahan total dari semuanya," ujar Komaruddin saat ditemui Republika di dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/2/2023). 

 

Komaruddin telah berjualan di momentum Satu Abad NU sejak Senin (6/2/2023) siang. Ia membawa barang dagangannya dari Kediri dengan menggunakan mobil. Dengan adanya Harlah Satu Abad NU ini, dia pun bersyukur hasil penjualannya meningkat tajam dibandingkan saat ia berdagang di tempat-tempat pengajian, haul, atau acara-acara religi lainnya. 

"Kalau penjualan ya otomatis pasti meningkat tajam kalau event-event seperti ini. Dibanding jualan biasa ya mungkin bisa tiga lipat," ucapnya. Namun, Komaruddin tidak berkenan untuk mengungkapkan omzet yang telah diraihnya. 

Dalam event ini, Komaruddin menjual berbagai souvernir seperti gelang, kalung tasbih, hingga cincin yang terbuat dari kayu. Menurut dia, barang dagangannya yang terlaris adalah souvenir yang terbuat dari Kokka, yaitu kayu yang berkualitas dan telah digunakan sejak zaman nabi.

"Ini kan sejarahnya dulu itu Rasulullah itu cincinnya sama tasbihnya Kokka. Jadi dari dulu sampai sekarang laku. Jadi gak pernah turun kalau Kokka itu," kata Komaruddin. 

"Ini bahan bakunya dari Arab, tapi pengrajinnya dari Kalimantan. Itu dibuat cincin, gelang, dan tasbih," kata Komaruddin.

Di dalam stadion juga banyak booth atau stand yang didirikan para pelaku UMKM atau perusahaan perbankan, seperti PT Bank Artha Graha Internasional TBK. Perusahaan-perusahaan yang mengikuti event Nahdlatut Tujjar Fest  tersebut berjejer di ring Stadion Gelora Delta Sidoarjo. 

photo
Seorang pedagang souvenir asal Kediri, Komaruddin (40) berjualan dalam acara Resepsi Puncak Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) sedang berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023). - (Republika/Muhyiddin)

 

Seorang pedagang kaki lima di luar stadion, Nur Cholis (40 tahun) juga mengaku mendapatkan berkah dari adanya Resepsi Puncak Satu Abad NU ini, tidak hanya berkah secara materi, tapi juga secara spiritual. Ia mengaku selalu merasa bahagia saat berjualan di acara-acara keagamaan. 

"Di sini lingkungan lebih nyaman, sama seperti acara pengajian Habib Syekh. Suasananya lebih damai. Berkah kebahagiaan itu tidak bisa dinilai dengan uang," ujarnya saat ditemui Republika lebih lanjut.

Nur Cholis mengatakan, secara tidak langsung event-event keagamaan juga berpengaruh pada spiritualitas para pedagang. "Banyak teman-teman yang agamanya mungkin kurang. Tapi dengan sering mengikuti pengajian dan sholawatan, lama-lama hati itu semakin lembut," jelasnya. 

Sedangkan secara materi, menurut dia, sebenarnya pendapatannya tidak jauh berbeda dengan acara-acara haul, pengajian dan acara sholawatan. Yang jelas, menurut dia, dalam Resepesi Puncak Harlah NU ini, peci, tasbih, dan surban yang dijualnya selalu rata. 

"Pendapatannya ya biasa-biasa saja, gak terlalu. Sama seperti Haul di Solo. Ini mungkin karena faktor ekonomi juga, yang mana waktu korona ekonomi masyarakat menurun," ujar Nur Cholis.

"Peci, tasbih, sarung, surban, ya hampir rata lah. Rata-rata semuanya laku," imbuh pedagang yang berjualan sejumlah perangkat alat sholat ini.

Nur Cholis sendiri baru berjualan di luar Stadion Gelora Delta pada Senin (6/2/2023) malam. Dia pun memperkirakan lonjakan pembeli akan terjadi pada Selasa (7/2/2023). Karena, hari ini masih ada banyak acara yang akan digelar PBNU.

Warga NU sendiri sangat antusias untuk hadir dalam acara Resepsi Puncak Satu Abad NU. Kendati demikian, menurut dia, daya beli masyarakat saat ini tampaknya masih sangat lemah pasca terjadinya Covid-19. 

"Kalau ramainya pasti ramaian Harlah ini, tapi kalau untuk daya belinya masih kurang. Mungkin karena faktor ekonomi juga karena corona," ujarnya. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement