Kamis 26 Jan 2023 14:33 WIB

Yordania Tekankan Pentingnya Penghormatan Status Quo Masjid Al Aqsa

Raja Yordania menekankan perlunya menjaga ketenangan di Masjid Al Aqsa.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
 Yordania Tekankan Pentingnya Penghormatan Status Quo Masjid Al Aqsa. Foto:  Polisi Israel berjaga saat kunjungan Kepala misi Uni Eropa Sven Kuhn,  ke Tepi Barat, di kompleks Al Aqsa di kota tua Yerusalem, 18 Januari 2023. Uni Eropa, Ulama dan tokoh Masjid Al Aqsa bertemu setelah insiden Duta Besar Yordania untuk Israel Ghassan Majali melaporkan bahwa polisi Israel menolak dia masuk tempat suci tersebut pada 17 Januari. EPA-EFE/ABIR SULTAN
Foto: EPA
Yordania Tekankan Pentingnya Penghormatan Status Quo Masjid Al Aqsa. Foto: Polisi Israel berjaga saat kunjungan Kepala misi Uni Eropa Sven Kuhn, ke Tepi Barat, di kompleks Al Aqsa di kota tua Yerusalem, 18 Januari 2023. Uni Eropa, Ulama dan tokoh Masjid Al Aqsa bertemu setelah insiden Duta Besar Yordania untuk Israel Ghassan Majali melaporkan bahwa polisi Israel menolak dia masuk tempat suci tersebut pada 17 Januari. EPA-EFE/ABIR SULTAN

REPUBLIKA.CO.ID,AMMAN -- Raja Yordania Abdullah II menekankan pentingnya menghormati status quo sejarah dan hukum di kompleks Masjid Al-Aqsa. Hal ini ia sampaikan selama pertemuan dengan perdana menteri Israel, Selasa (24/1/2023) lalu.

Raja Yordania menekankan perlunya menjaga ketenangan dan menghentikan semua tindakan kekerasan. Dalam sebuah pernyataan, disampaikan ketenangan ini akan membuka jalan bagi cakrawala politik dan proses perdamaian.

Baca Juga

Dilansir di Arab News, Kamis (26/1/2023), lebih lanjut dia juga menyerukan diakhirinya tindakan apa pun yang dapat merusak prospek perdamaian.

Saat menjamu Benjamin Netanyahu di Amman, Raja Abdullah menegaskan kembali dukungan teguh Yordania terhadap solusi dua negara. Solusi ini dipercaya menjamin pembentukan negara Palestina merdeka pada 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Awal tahun ini dunia dibuat ramai dengan kunjungan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir ke kompleks masjid Al-Aqsa, pada 3 Januari. Tindakannya ini membuat marah warga Palestina dan memicu kecaman global.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan keprihatinan atas kunjungan yang dilakukan Menteri Keamanan Nasional ini. Amerika Serikat (AS), sekutu terdekat Israel, menentang semua tindakan sepihak yang menyimpang dari status quo sejarah yang tidak dapat diterima.

''Kami mencatat Perdana Menteri (Benjamin) Netanyahu menyerukan pelestarian status quo, sehubungan dengan tempat-tempat suci. Kami mengharapkan pemerintah Israel menindaklanjuti komitmen itu,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Robert Wood, pada sesi darurat Dewan Keamanan yang diselenggarakan oleh Uni Emirat Arab dan China.

Meski ada peringatan tindakan tersebut akan menimbulkan keresahan, Ben-Gvir tetap mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa. Bagi umat Islam, Al-Aqsa mewakili situs tersuci ketiga di dunia. Orang Yahudi, pada bagian mereka, menyebut daerah itu sebagai Temple Mount, serta mengatakan lokasi tersebut itu adalah situs dua kuil Yahudi di zaman kuno.

Non-Muslim dapat mengunjungi kompleks ketika Muslim tidak melaksanakan ibadah, tetapi mereka tidak diizinkan untuk berdoa di sana di bawah status quo.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan kunjungan Ben-Gvir ke kompleks Masjid Al-Aqsa adalah penyebab keprihatinan serius. Hal ini juga melanggar status bersejarah Yerusalem yang tidak dapat diterima.

Utusan China untuk PBB, Zhang Jun, mengatakan tindakan pejabat Israel telah mengakibatkan situasi yang rapuh dan parah di lapangan. Pihaknya meminta Israel untuk menghentikan semua hasutan dan provokasi, serta menahan diri dari tindakan sepihak.

Wakil duta besar UEA untuk PBB, Mohamed Abushahab, mengutuk provokasi serius yang mengancam Masjid Al-Aqsa, serta penyerbuan masjid oleh seorang menteri Israel di bawah perlindungan pasukan Israel.

Dia mengatakan tindakan provokatif seperti itu semakin menggoyahkan situasi rapuh di wilayah Palestina yang diduduki. Hal ini juga menyebabkan perkembangan serius yang membuat wilayah itu semakin jauh dari jalur perdamaian yang diinginkan.  

Sumber:

https://www.arabnews.com/node/2238111/middle-east

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement