Kamis 27 Oct 2022 07:37 WIB

Yunani Ubah Masjid Bersejarah Ottoman Jadi Sekolah Musik, Politisi Turki Murka 

Yunani ubah fungsi masjid-masjid bersejarah era Ottoman menjadi museum

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah
Masjid-masjid bekas peninggalan Utsmani atau Ottoman di Yunani yang dialihfungsikan menjadi museum, ruang pamer, barak militer, hingga toko roti.
Foto: Uttiek M Panji Astuti
Masjid-masjid bekas peninggalan Utsmani atau Ottoman di Yunani yang dialihfungsikan menjadi museum, ruang pamer, barak militer, hingga toko roti.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA — Kebijakan otoritas Yunani yang mengubah fungsi masjid dan sejumlah bangunan bersejarah peninggalan era Ottoman di negara itu telah memantik reaksi keras dari politisi Turki.

Seperti dilansir Daily Sabah pada Kamis (27/10/2022) juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan Turki, Omar Elik, mengecam konversi bangunan-bangunan bersejarah era Ottoman yang berada di Yunani menjadi sekolah musik.  

Baca Juga

Melalui akun media sosialnya, Elik mengutuk otoritas Yunanti yang tidak menghormati pusat-pusat keagamaan, masjid, kuburan dan para martir. 

"Tidak dapat diterima bahwa Kompleks Murat Reis warisan Ottoman di Pulau Rhodes diubah menjadi fakultas musik. Kebijakan sistematis otoritas Yunani untuk menghapus identitas struktur Turki Ottoman tidak menghormati warisan budaya bersama umat manusia. Mereka seharusnya malu dengan praktik yang bertujuan untuk menghina kita,” kata elik.  

 

Dia mengatakan bahwa pemerintah Turki telah menerima banyak gereja Yunani-Ortodoks di wilayahnya sebagai warisan bersama umat manusia dan memulihkan serta membukanya kembali untuk beribadah. 

Tetapi hal tersebut tak dilakukan Yunani pada bangunan-bangunan bersejarah era Ottoman. 

"Namun demikian, kami melihat Yunani melakukan pendekatan biadab terhadap warisan bersama dan dengan kejam menyerangnya," tambahnya. 

Pada tahun-tahun setelah kemerdekaan Yunani, banyak bangunan peninggalan Ottoman diubah menjadi penjara militer, bioskop, kantor provinsi, hostel, dan unit penyimpanan. 

Selain itu puluhan masjid ditutup untuk beribadah, sementara yang lain diubah menjadi gereja. Banyak juga bangunan yang ditinggalkan sejak saat ini telah runtuh.  

Masjid Fethiye di Athena yang dibangun Mehmet Sang Penakluk pada 1458 saat ini digunakan sebagai ruang pameran. Masjid Tzisdaraki kota juga telah diubah fungsinya sebagai museum keramik. 

Sementara itu di kota terbesar kedua di Yunani yaitu Thessaloniki, terdapat Masjid Hamza Bey yang tertua di kota itu namun telah ditutup karena pekerjaan restorasi yang bertujuan untuk mengubah bangunan tersebut menjadi museum. 

Bangunan ikonik yang dibangun pada 1467 ini sebelumnya diubah menjadi gedung bioskop.  

Masjid Alaca Imaret kota yang hampir sama tuanya dengan Masjid Hamza Bey juga telah diubah menjadi museum. 

Masjid Yeni Thessaloniki yang dibangun pada 1904  telah lama ditutup untuk beribadah, menaranya telah dihancurkan setelah kota itu dimasukkan ke dalam Yunani modern. Saat ini.gedung tersebut berfungsi sebagai ruang pameran kotamadya.  

Pada saat yang sama Menara Putih, salah satu monumen Ottoman terpenting di Thessaloniki dipromosikan sebagai karya Bizantium dan simbol kota. Masjid dan bangunan bersejarah di banyak kota Yunani lainnya seperti Ioannina, Larissa, dan Kavala juga mengalami nasib yang sama. 

Masjid Aslan Pasha di Kota Ioannina, Masjid Veli Pasha di Rethymno dan Masjid Zincirli dibangun pada abad ke-16 di Serres semuanya telah diubah menjadi museum. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement