Jumat 14 Oct 2022 13:15 WIB

Syekh Athaillah: Sombong Jika Merasa Diri Sudah Tawadhu

Orang yang sudah tawadhu tidak akan merasa dirinya tawadhu.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko
Takwa (ilustrasi).
Foto: alifmusic.net
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskan bahwa orang yang merasa dirinya sudah tawadhu sebenarnya adalah orang yang sombong. Sebab orang yang sudah tawadhu tidak akan merasa dirinya tawadhu.

"Barang siapa yang merasa tawadhu maka ia adalah orang sombong yang sebenarnya. Sebab tawadhu tidak akan ada kecuali dari perasaan lebih mulia. Ketika kamu merasa tawadhu maka kamu adalah orang sombong yang sebenarnya." (Syekh Athaillah, Al-Hikam)

Baca Juga

Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya yang diterbitkan penerbit Noktah tahun 2017 menjelaskan maksud Syekh Athaillah mengenai orang yang merasa sudah tawadhu.

Tawadhu adalah sifat rendah hati, tidak menyombongkan kelebihan kepada siapapun, baik kepada teman, keluarga, dan lain sebagainya. Tawadhu adalah salah satu sifat mulia yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Sehingga banyak ayat dan hadits yang memerintahkan agar kamu tawadhu.

 

Masalahnya bagaimana jika kamu merasa tawadhu, apakah itu masih bisa dikatakan tawadhu? Jawabannya tidak. Jika kamu menyangka bahwa kamu tawadhu, itu artinya kamu adalah sosok yang sombong dan suka membanggakan diri. Sama halnya dengan seorang intel, jika ada seorang laki-laki mengaku intel, maka ia bukanlah intel. Karena orang yang memegang jabatan intel itu tidak mungkin akan mengaku.

Biasanya seorang tidak akan menyombongkan diri, ke­cuali karena ia merasa mulia dan hebat. Misalnya orang kaya menyombongkan dirinya karena kekayaan yang dimilikinya. Orang pintar menyombongkan diri karena kepintaran yang dimiliki. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Begitu juga halnya dengan sifat tawadhu. Sifat ini sa­ngat mulia dan dicintai oleh Allah SWT. Artinya, jika kamu membanggakan diri dengan sifat tawadhu atau kamu me­rasa tawadhu, maka sebenarnya kamu adalah sosok yang sombong.

Cukuplah kamu menjalankan semua yang diperintahkan­ Allah SWT. Misalnya kamu bersifat tawadhu, tidak perlu menceritakan kelebihan kamu kepada orang lain, tidak perlu meng­ungkapkan atau merasa diri kamu tawadhu. Allah SWT yang akan menilai kamu dan memberikan ganjarannya.

Janganlah kamu mengharapkan pujian dari orang lain karena sesuatu yang kamu lakukan. Misalnya berharap agar nama kamu terkenal di hadapan khalayak. Ingat, barang siapa yang tawadhu dengan sebenar-benarnya, maka Allah SWT akan meninggikan derajatnya. Barang siapa yang sombong maka Allah SWT akan merendahkannya. Allah SWT yang memegang kunci kemuliaan, yang hanya akan diberikan kepada orang yang diinginkan-Nya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement