Senin 13 Sep 2021 05:03 WIB

KOSMOPOLITANISME ISLAM; Jalur Rempah Dulu dan Kini

Apakah konsep ‘kosmopolitanisme’ Islam itu?

Kedatangan saudagar rempah. (ilustrasi)
Foto: wikipedia
Kedatangan saudagar rempah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra, CBE*

Dalam penelitian tentang Islam di Indonesia konsep ‘kosmopolitanisme’ sering digunakan. Menurut kalangan pengamat asing, dalam literatur tentang subyek kosmopolitanisme Islam masih kurang. Tidak ada penjelasan lengkap tentang apa yang dipahami atas istilah itu; tidak ada penjelasan atau definisi tentang kosmopolitan atau kosmopolitanisme. Inilah kecenderungan tipikal kalangan sarjana asing atau Indonesia yang jarang menjelaskan secara jelas dan rinci maksud dan definisi istilah/terminologi tertentu yang mereka gunakan seperti kosmopolitan atau kosmopolitanisme—literatur atau sarjana bersangkutan seolah menganggap orang atau pembaca secara taken for granted memahami apa yang dia maksudkan. 

Beberapa iteratur kontemporer menyebutkan beberapa cendekiawan Muslim Indonesia (misalnya Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, dan juga penulis makalah ini, Azyumardi Azra) sebagai berorientasi ‘kosmopolitanisme’ atau ‘cendekiawan Muslim kosmopolitan’ tanpa mempertanyakan apakah mereka melihat/merasa diri sendiri sebagai ‘kosmopolitan’.

Sekali lagi, baik peneliti asing atau peneliti anak negeri sendiri jarang  menanyakan langsung atau mewawancarai orang yang disebut ‘cendekiawan kosmpolitan’ atau ‘sarjana kosmopolitan’. Tetapi penulis makalah ini pernah diwawancarai Associate Professor Khairuddin Aljunied, dosen National University of Singapore (NUS), untuk penulisan tentang Hamka apakah ulama ini bisa disebut sebagai ulama dan sastrawan kosmopolitan (lihat Khairuddin Aljunied, Hamka and Islam¨Cosmopolitan Reform in the Malay World, Ithaca: Cornell University Press, 2018).

 

Penulis sendiri juga kadang-kadang disebut beberapa penulis atau pewawancara sebagai cendekiawan kosmopolitan. Ada yang bertanya, maksudnya karena apa. Saya jawab; mungkin karena pandangan dunia saya, atau pengalaman intelektual saya yang mencakup berbagai bidang ilmu dan juga mendunia, sama sekali tidak terbatas pada Indonesia atau Sumatera Barat, daerah asal saya.

Apakah konsep ‘kosmopolitanisme’, ‘kosmopolitan’, atau ‘Islam kosmopolitan’ atau ‘kosmpolitanisme Islam relevan dengan Islam Indonesia umumnya atau Islam Nusantara-nya Nahdlatul Ulama (NU) khususnya? Lebih jauh, apakah ‘sarjana kosmopolitan’ atau bahkan ‘cendekiawan Muslim kosmopolitan’ juga relevan di Indonesia.

Baca juga : Kisah Pembelotan Tentara AS, Melatih Taliban dan Jadi Mualaf

Hemat saya. konsep ‘kosmopolitan’, ‘Islam kosmopolit’ atau ‘Islam kosmopolitan’ dan ‘kosmopolitanisme Islam’ pernah dan tetap relevan dengan Islam Indonesia di masa silam dan kini dan mendatang. Tetapi jelas, secara historis dan sosio-relijius ‘kosmopolitanisme Islam Indonesia’ juga mengalami pasang naik dan juga pasang surut akibat dampak pengaruh internal maupun eksternal di Indonesia dan dunia lebih luas.

‘Kosmopolitan’ secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘sikap atau pandangan dunia bahwa seluruh manusia di dalam kosmos merupakan komunitas tunggal’. Dalam pengertian lebih luas dan lebih longgar ‘kosmopolitan’ berarti world-view yangbersifat mendunia/kosmos. Meski dalam makna aslinya, menyatakan manusia sejagad raya sebagai komunitas tunggal, kosmopolitanisme dalam pengertian longgar berarti pandangan dunia (world-view) menjagad, melintasi batas wilayah, budaya, ras, agama, dan seterusnya. Kosmopolitanisme juga dapat dipahami sebagai pandangan dunia, paham atau semacam ideologi tentang kemenduniaan atau kesejagadan. Dalam konteks itu, konsep kosmopolitan, kosmopolitanisme, Islam kosmopolitan atau kosmopolitanisme Islam; dan cendekiawan Muslim kosmopolitan sekali lagi pernah dominan dan tetap relevan dalam perjalanan historis Islam Indonesia.

Secara historis, Islam Indonesia sejak masa awal penyebarannya pada abad 13 dan seterusnya berkarakter kosmopolitan terutama karena Indonesia adalah benua maritim yang menjadi wilayah lintas pelayaran; menjadi lokus perdagangan internasional, wilayah pertukaran sosial budaya mondial dan tempat pertemuan berbagai agama dunia. Islam Indonesia masa kini dengan tradisi Islam wasatiyahnya juga kosmopolitan karena karakternya yang akomodatif dan inklusif, sehingga menjadi Islam yang menarik bagi publik Eropa, Amerika, dan bahkan Dunia Arab dan wilayah Muslim lain. Figur-figur yang menonjol/prominen dalam pemikiran dan diseminasi Islam wasatiyah secara global dapat disebut sebagai cendekiawan Muslim Indonesia kosmopolitan.  

Apakah kosmopolitanisme positif atau negatif atau penting atau kurang penting dalam kehidupan Islam Kepulauan Nusantara dan Islam Indonesia sekarang? Kosmopolitanisme jelas positif dan baik dan sangat perlu atau dibutuhkan, khususnya dalam kehidupan sosio-religio, religio-kultur, religio-politik. Dengan kosmopolitanisme orang dan komunitas berbeda dapat berinteraksi dan menjalin hubungan baik dan produktif untuk memajukan peradaban dunia dalam berbagai aspek yang disebutkan tadi: sosial, budaya, politik dan seterusnya.   

Banyak kalangan—Muslim dan non-Muslim—kadang-kadang mengeluh dan menganggap, kosmopolitanisme Islam Indonesia dan cendekiawan Muslim Indonesia kosmopolitan cenderung semakin sedikit. Boleh jadi anggapan itu benar dalam batas tertentu. Dan boleh jadi juga, keadaan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah cendekiawan Muslim Indonesia yang terlibat dalam interaksi dan pertukaran gagasan kosmopolitan. Peningkatan neo-konservatisme di kalangan umat Islam Indonesia belakangan ini, juga membuat kian banyak sarjana dan  cendekiawan Muslim Indonesia menghabiskan banyak waktu untuk meresponi berbagai isyu lokal, bukan isyu menjagad. Gejala ini membuat banyak cendekiawan Indonesia—tidak hanya yang Muslim—berpikir dan bertindak seperti katak dalam tempurung.

Baca juga : Andai Bang Ipul Jadi Bintang K-Pop

Masyarakat Muslim Indonesia dan ummah Islam global membutuhkan karakter kosmopolitan dan kosmopolitanisme, Baik dalam konteks Islam Indonesia, Muslim Indonesia dan Islam global atau umat Muslim dengan karakter dan pandangan dunia kosmopolit dan kosmopolitan sangat mendesak diperlukan. Hanya dengan kosmopolitanisme, Islam wasatiyah ada masa depan Islam lebih baik atau Muslim lebih baik; selama tidak ada kosmopolitanisme itu, selama itu pula Islam dan kaum Muslim sulit mencapai kemajuan dan berinteraksi secara positif dan produktif dengan budaya Barat khususnya untuk membangun peradaban dunia yang lebih damai dan maju. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement