REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis dan Traveller.
Duta Besar RI untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa hampir 60-70 persen komentar dari pemberitaan di Indonesia berisi pembelaan terhadap Israel. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada “Syawalan bersama Diaspora Muhammadiyah Eropa,” Ahad (16/5).
“Pemberitaan di Indonesia, perlu teman-teman amati komentarnya,” tuturnya. Mengejutkannya, lanjut Iqbal, kalau tiga atau empat tahun lalu, 9 dari 10 isi komentarnya berpihak kepada Palestina, kini tidak lagi.
Yang mengkhawatirkan baginya bukan sekadar pembelaan terhadap Israel, tapi narasi dan argumentasinya seragam. “Ini menunjukkan upaya terstruktur, terorganisasi, untuk melakukan pembelaan terhadap Israel,” ujarnya. [Turkinesia, 17/5]
Hari-hari ini berseliweran di media sosial komentar para buzzer hingga pejabat yang mendukung aksi zionis dengan bermacam dalih. Ada yang lugas, ada yang malu-malu, ada yang berputar-putar tak menentu.
Muncul juga postingan hoax tanpa sumber yang jelas, seperti yang kemarin sempat viral tentang Hamas yang dituduh syiah dan banyak lagi.
Di tengah keriuhan media sosial, sebenarnya ada dua suara. Voice, yakni suara yang didengar, dan noise alias kebisingan yang mengganggu.
Voice adalah konten yang diunggah akun kredibel dengan menyertakan sumber yang jelas, ilmiah dan terkonfirmasi. Sedang noise adalah konten yang diunggah akun yang tidak jelas, isinya bombastis, tidak terkonfirmasi dari mana sumbernya.
Parahnya, noise seringkali keberisikannya terdengar lebih nyaring. Karena dishare oleh mereka yang tidak mau belajar, tidak mau bertanya kalau tidak paham, atau minimal tidak mere-share sekiranya informasinya meragukan.
Ada juga yang mengusung ayat untuk “pembenaran”, padahal sejatinya sedang melakukan penggembosan.